Iklan Billboard 970x250

Artikel Terkait

Untuk Anda yang mau mengirimkan karya literasimu, baik itu cerpen, puisi, esai dan karya literasi lainya, silahkan Anda buka disini Kirim Artikel. LINK UNDUH SUDAH SAYA PERBAIKI. (Khusus Pada Artikel Aplikasi Android )

×
TANAH TANAH KERAS, Kumpulan Puisi Karya Umbu Nababan

Iklan 728x90

TANAH TANAH KERAS, Kumpulan Puisi Karya Umbu Nababan

    TANAH TANAH KERAS, Kumpulan Puisi Karya Umbu Nababan

    Tanah tanah keras

    Batu batu karang
    Tanah tanah keras
    Jarang benih beras
    Apalagi susu yang di peras

    Kala hujan deras
    Di tangkap dalam gelas
    Para petani meramu menjadi miras
    Agar esok! Tergeletak malas

    Derai semua ibu berbalas memelas
    Kelaparan mencekik! Deras-ganas
    Kalian di kursi atas
    Menertawainya dengan lekas
    Para jiwa yang tergilas
    Akibat benci pena dan kertas

    Di luas tapal batas
    Ku kirim mantra ke atas
    Merubah batu menjadi kapas

    Dps, November, 2011



    Ayah

    Garis kerut di wajahnya
    Terpenuhi kisah cerita
    Tentang hidupku
    Dan keakuanku

    Semenjak merangkak lemah
    Wajahnya sudah ku telan
    Ku urapi menjadi satu nama
    Ayah..

    Ingin suatu waktu
    Sesaat sebelum bulan membulat
    Ku tawarkan segelas air putih
    Dan bercerita
    Tentang kelana ku
    Menumpang pada kebesaranya
    Tentang cermin cermin ku
    Yang memantul gambar gambarnya

    Ayah

    Bila belum usiamu berbaring
    Aku ingin kau mengiring
    Keluar dari lebar labirin
    Keakuanku

    Dan sekali lagi
    Aku akan merangkak lemah
    Mengucap maaf
    Padamu
    Ayah

    Desember, 02, 2011



    Mereka penipu

    Hari ini ku baca Koran
    Ada banyak sekali peran
    Bupati yang berang
    Dan gubernur yang garang
    Ribut soal tambang
    Katanya rakyat jangan bimbang
    Jangan dengar isu yang berkembang

    Kemarin sempat juga ku lihat berita
    Ternyata bukan hanya cerita
    Rakyat sumba sangat menderita
    Banyak yang lapar
    Untung belum mati terkapar
    Tertolong, ubi bakar

    Pak bupati dan gubernur
    Jangan hanya mendengkur
    Rakyat hanya ingin kalian jujur

    Dps, September, 2011




    Wulla Podu

    Aku menulis dari sudut sunyi
    Tentang batu batu
    Tentang beberapa hinggi

    Batu batu itu adalah bisikan dari suara mauri.
    Berikan kehangatan akan umbu yang mencintai rambu,
    Bersenandung nyanyian savana
    membawa kita pada cinta dalam kisah marapu
    yang terdiam di altar mauri.

    Umbu sempat bertanya
    Siapa empunya altar??
    Tak peduli tuhan apakah dewa
    Namun mimpi beri jawab
    Dewa dan tuhan
    Sering bercengkrama dalam hujan dan pelangi

    Dalam kehampaan fananya mistiknya senyum rambu,
    membuka kisa tentang Wulla Podu
    kala rembulan menyingkap miang-miang sunyi.
    Ini kisah di tanah berjuta manusia menjadi ruamata.
    lahirkan umbu-umbu dan rambu bahkan yabbu yang mengajarkan ku
    tentang mutiara_mutiara pengganti jiwa.
    aku ingin di baptis kala ku menginjak pada savana menjadi umbu.

    pada malam penghabis wulla podu
    Dari pesisir menara tua
    Rambu mengirim mantra matra pada kabbala
    Biaskan baptisan agung pada tubuh
    Tubuh baru yang berbaring di atas kubur batu tua
    Berbalut anahida purbani

    Mengalir berjuta puisi yang bersua
    menimang tetabuhan gendang kulit manusia.
    Ada sejuta semangat baru dalam hentakan kaki sang pengisah.
    Bawakan antaran berjuta harum cendana untuk sumba dalam rinkikan sandelwood.
    Ini darah kami semusim




    Bahasa keheningan II

    Keramaian jatuh pecah
    Saat malam merekah
    Keheningan mulai berkecambah
    Bertunas hening jengah

    Suara suara anjing berbuah
    Menusuk malam yang lagi hamil tua
    Menjadikan wajah kian gerah
    Menebas senyuman gelisah

    Manisku
    Tombaklah lautan hitam
    Pecahkan menjadi rindu
    Biarkan tumpah ruah
    Memandikan ku
    Hingga merasakan asinnya airmatamu

    Dps, september, 2011



    Ayo kemari manisku

    Mengapa manisku…
    Wajah mu begitu muram
    Senyum mu semakin suram
    Apakah karena malam
    Kemari sayangku…
    Kita resapi belaian ini
    Bercerita tentang dahulu
    Saat engkau memeluku
    Dengan mesra…
    Jangan ragu manisku
    Aku masih seperti dahulu
    Mencintai kabut pada alis matamu
    Dan masih sehangat dahulu
    Mengecup bibirmu penuh gelora
    Ayo kemari manisku
    Jangan membisu
    Karena dipaku rindu

    Dps, september,2011


    Postingan ini dikirim oleh:
    Umbu Nababan


    Tinggal di Kota Waingapu, Sumba Timur. Dari Kananggar, Nusa Tenggara Timur, Indonesia
    Baca Juga
    SHARE
    Marko Kono
    Hi, My name is Marko. Pencinta Malam, Penyuka Hitam, Penikmat Gelap dan Pengurus Tapaleuk, hehehe 😃 Selain blogging, punya pekerjaan pribadi sebagai Staf Teknik bagian Pengawasan Proyek. Teknik Sipil menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupanya.
    Masukan Email Anda Untuk Dapatkan Update GRATIS!

    Artikel Terkait:

    Post a Comment

    Iklan Tengah Post