Iklan Billboard 970x250

Artikel Terkait

Untuk Anda yang mau mengirimkan karya literasimu, baik itu cerpen, puisi, esai dan karya literasi lainya, silahkan Anda buka disini Kirim Artikel. LINK UNDUH SUDAH SAYA PERBAIKI. (Khusus Pada Artikel Aplikasi Android )

×
SUDAH SAATNYA, Kumpulan Puisi Karya Umbu Nababan

Iklan 728x90

SUDAH SAATNYA, Kumpulan Puisi Karya Umbu Nababan

    SUDAH SAATNYA, Kumpulan Puisi Karya Umbu Nababan

    Sudah saatnya

    Pada waktunya
    Suara suara mereka menggema
    mengguncang langit langit
    Ribuan pasang kaki ikut bersuara
    Dalam deru perlawanan

    Hai pemuda mengapa masih berdiam
    Bergulat dengan mimpi idealisme
    Apakah engkau takut dengan suara bupati
    Ataukah engkau gemetar melihat bintang redup

    Umbu rambu mengapa masih merenung
    Angin pemberontakan sudah berhembus
    Angkat sauhmu berlayarlah
    Menuju lembah pengusir kematian

    Denpasar, agustus,2011


    Waingapu

    Waingapu
    Dalam kawalan dua menara kembar
    Melewati masa silam 
    Terus dan terus

    Tanpa bioskop lama
    Pasar lama
    Hingga jembatan lama
    Gereja lama pun ambruk
    Menjadi ruko
    Berisi gadis gadis tanpa penutup dada
    Adapun Pasar bertingkat
    Berhimpitan dengan sayur putih dan gule kambing
    Campur baur

    Waingapu
    Dan terus waingapu
    Waingapu mulai bingung
    Banyak kebingungan
    Mungkin di kelabui jalan jalan aspal
    Hingga becak becak bersuara cempreng

    Waingapu dalam sebuah waktu
    Bertemu dengan dermaga lama
    Menikmati cinta hingga senja
    Melarung malam dalam harmoni gulita
    Serta suara kapal kapal kayu
    Dan sampan nelayan bugis

    Waingapu
    Dalam
    Pasar malam
    Bakso depan PU
    Suara musik angkutan kota
    Hingga taman kota sempit
    Berhawa sejuk 

    Waingapu
    Dalam kawalan dua menara kembar
    Melewati masa silam 
    Terus dan terus
    Digauli
    Dan mengauli
    Hingga masa depan
    Waingapu
    Dalam aku dalam kedalaman waingapu
    Walau kali kambaniru dan payeti menjadi kering
    Di telan gedung gedung bertingkat
    Aku akan tetap ingin mati di sana
    Di kota itu
    Tempat aku berkenalan dengan matahari, cinta, dan mengenal aku
    Waingapu
    Dan terus waingapu



    SUARA KEBENCIAN

    Pria pria Kami adalah jiwa jiwa yang terlahir dari karang karang kokoh
    Wanita wanita kami adalah bidadari penguasa sabana
    kami meneriakan “kami pemilik tanah sabana”
    Dan bernyanyi dengan lantang “kami semua satu darah”

    Di saat tanah kami penuhi dengan tangisan leluhur kami
    Jangan salahkan kami, bila bertempur dengan DARAH!!!!

    Kami memang tak punya uang
    Kami pun tak punya pengawal pribadi
    Apalagi memiliki sekarung emas
    Tapi kami memiliki!!!
    Semangat ayah ayah kami yang bertarung dengan peluh
    Cinta dari air susu ibu kami

    Kami di peranakan tanah ini
    Di besarkan oleh kemarau panjang ini
    Dan kami memang anak dari leluhur MARAPU
    Yang kata kalian “penyembah batu dan pohon”
    Tapi itulah kami!!!
    Pemilik dan penguasa tanah ini

    Dan kami peringatkan kalian!!!
    DARAH ITU MERAH TUAN!!!!
    Dan untuk tanah kami
    Tanah pertiwi kami
    Pemilik air susu ibu kami
    KAMI TAK TAKUT BERTUKAR DARAH
    DENGAN KALIAN WAHAI TUAN!!!!

    *“tolak tambang dan radikalisasi asing di tanah sumba”



    Secangkir kopi (untuk anak anak di Indonesia)

    Sore itu…
    Dalam satu tegukan kopi hitam
    Mataku menatap negri pertiwi

    Anak anak berlari telanjang
    Merebut sinar dI antara celah kaca bertingkat
    Hilir mudik tanpa takut serigala
    Mereka terus belari dan kini berteriak
    Aku telanjang!!! 
    aku telanjang!!!
    dan kemaluanku sudah berdarah
    karna tak ada lagi tersisa 
    hanya darah
    hanya darah

    ibu ibu di trotarpun ikut berlari
    menyusuri trotoar berduri emas
    meninggalkan bayi mereka di antara celah tong smpah organic
    mereka berteriak
    dan ikut berteriak
    akupun telanjang!!!
    Lihatlah payudara berputing lebar mengkerut ini
    Sudah menyentuh lipatan perutku
    Air susukupun sudah habis!!! 
    Kini sudah mengeluarkan darah
    Darah yang kupaksa keluarkan
    Agar dahaga bayi bayi kami terpuaskan

    Bayi bayi pun ikutan teriak
    Terus teriak dan mulai mengguncang kaca kaca bertingkat
    Serigala mulai gemetar
    Deretan gigi gemeretak
    Lalu..
    Seorang ayah menghampiri
    Mendekatkan dada bidangnya
    Membiarkan bibir bayi mengulum
    Semampu mereka
    Menghisap
    menghisap
    Menggigit

    Dari celah sorot mata sang ayah
    Anak anak dan ibu ibu
    Terus berlari dan berteriak
    Aku telanjang dan aku berdarah
    Tercecer dari trotoar hingga teras restoran cepat saji
    dAri kolong jembatan hingga istana emas srigala

    telanjang dan berdarah!!!
    telanjang dan berdarah!!!
    Amin ya tuhanku. Amin

    Denpasar, Juli 2011
    *untuk anak anak di indonesia



    Gadis kecil

    Seorang gadis kecil berjalan dalam telaga kesepian
    Sendiri tanpa lentera bercahaya pengharapan
    Bersandar pada sepasang kaki berbau selimut sampah
    Mengejar cakrawala yang samar samar menggoda

    Malam terus mencekam, menakuti dengan jari jari awan hitam
    Desir desir angin meniupi air telaga sepi
    Mengundang masa masa kelam, terus, terus, dan terus
    Berusaha memegang jari telapak gadis menuju cakrawala samar

    Masa masa kelam menhantu bersama tangisan
    Melarung kesedihan berlumut di tepian telaga
    Terus mengintai bayi bayi lapar
    Dan menunggu mati di bawah kemaluan seragam durjana

    Gadis kecil hilang perawan, tanpa lendir vagina
    membasuh keringat di belahan kemaluan kambing
    namanya tidak di kenali hanya berinisial perawan
    meronta diam kengerian hampa amarah

    Seorang gadis kecil berjalan dalam telaga kesepian
    Sendiri tanpa lentera bercahaya pengharapan
    Bersandar pada sepasang kaki berdarah, dan berdarah
    Mengejar cakrawala yang samar samar menggoda

    Dps, juli, 2011



    Ingatkah engkau umbu?

    Ingatkah engkau umbu?
    Pada seorang gadis sabu
    Teman hidup dahulu
    Saat ragamu berupa debu

    Mungkin engkau belum lupa
    Pada mata sehangat telaga
    Mampu membuatmu terjaga
    Semenjak fajar hingga senja

    Dia masih disana
    Berdiri pada pelangi warna
    Menanti dibawah langit jingga
    Setia Pada umbu hingga keriput renta
    dps, juni,2011


    Postingan ini dikirim oleh:
    Umbu Nababan


    Tinggal di Kota Waingapu, Sumba Timur. Dari Kananggar, Nusa Tenggara Timur, Indonesia
    Baca Juga
    SHARE
    Marko Kono
    Hi, My name is Marko. Pencinta Malam, Penyuka Hitam, Penikmat Gelap dan Pengurus Tapaleuk, hehehe 😃 Selain blogging, punya pekerjaan pribadi sebagai Staf Teknik bagian Pengawasan Proyek. Teknik Sipil menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupanya.
    Masukan Email Anda Untuk Dapatkan Update GRATIS!

    Artikel Terkait:

    Post a Comment

    Iklan Tengah Post