Iklan Billboard 970x250

Artikel Terkait

Untuk Anda yang mau mengirimkan karya literasimu, baik itu cerpen, puisi, esai dan karya literasi lainya, silahkan Anda buka disini Kirim Artikel. LINK UNDUH SUDAH SAYA PERBAIKI. (Khusus Pada Artikel Aplikasi Android )

×
SEBAIT JEJAK di SUMBA, Kumpulan Puisi oleh Umbu Nababan

Iklan 728x90

SEBAIT JEJAK di SUMBA, Kumpulan Puisi oleh Umbu Nababan

    SEBAIT JEJAK di SUMBA, Kumpulan Puisi oleh Umbu Nababan

    Sebait Jejak di Sumba II

    Petang belum mejemput
    Jejak sepasang menabuh bumi
    Melewati mata mata ilalang
    Serta merta mengirim bahu di samping karang
    Di perbukitan kering kerontang
    Menanti siang turun runtuh
    Bercengkrama bersama bunga rumput khas sabana
    Penuh tawa penuh rindu bercerita tentang yang dulu

    Akhirnya siang benar benar jatuh
    Menyapa alas bukit meja dari kejauhan
    Sudah waktunnya kuda kuda kembali ke kandang
    Di temani gembala berkumandang merdu

    Sepasang jejak jenuh pada padang
    Lengan kaki kembali berayun
    Melangkah menuju patung kembar
    Sejenak menikmati suara malam
    Sejenak menikmati jagung bakar
    Bersama sang pujaan hati
    Bercerita tentang rumah menara kembar
    Bercerita tentang rumah rakyat
    Bercerita tentang apu dan boku

    ******
    Kawan
    Mampirlah sebentar di tanahku
    Tanah yang didiami para kabihu
    Yang bercerita tentang dewa-dewa marapu
    Dan keajaiban-keajaiban yang turun dari lagit biru

    Kamar laba laba putih, 26 , mei, 2011


    Swara Bumi

    Apalagi yang di miliki ku
    Tersisa hanya rumah menara purba
    Hanya kubur batu tua
    Dan karang yang memeluk ilalang renta
    .
    Anakku hilang seribu bahkan seratus ribu
    Melangkah dan pergi ke tanah barat
    Tengelam dalam lautan amoral semu
    Terbang bersama angin kemolekan zaman
    .
    Kini ku hanya bermodal diri
    Berjuang sendiri tanpa henti
    Menantang rupiah dan industri
    .
    Aku bukan lagi tarian dalam karang selatan
    Aku bukan lagi wangian cendana dewa
    Aku bukan lagi kuda gagah di padang cokelat
    Aku hanya
    Aku hanya
    Aku kini hanya emas jutaan dollar
    .
    .
    .
    Denpasar,20,mei,2011


    Pada nona

    Apakah lelaki boleh bertanya
    Tentang cinta 
    Ataukah cinta yang boleh bertanya
    Bisakah lelaki mencinta

    Pada nona
    Bila kau menanyakan cinta
    Kuberikan pelangi warna berkasta
    Bila kau menanyakan rindu
    Kuberikan langit biru sendu
    Pada nona

    Pada nona 
    Sepi bercengkrama malam
    Hati diam kelam
    Melepuh keluh karam..
    Dua arca tuhan berhadapan

    Nona tak menanyakan lelaki mencinta
    Bagi nona lelaki hanya bercinta
    Tapi aku juga lelaki muda
    Penuh doa agar nona bahagia tanpa jeda
    Apakah menurut nona ini bercanda
    Ataukah ini “cinta” lelaki muda
    ............

    Mei,2011



    Halo pak bupati

    Halo pak bupati
    Ada kabar dari peti
    Rakyatmu hampir mati
    Karna tambang sudah pasti

    Katanya dulu kami akan sejatera
    Harta kami tak akan di jarah
    Tapi mengapa semakin parah
    Walau sudah menangis darah

    Halo pak bupati yang ganteng
    Jangan patantang patenteng
    Mentang mentang ada centeng
    Galaknya kaya banteng

    Kalo masih pengen di pilih
    Jangan suka banyak dalih
    Merasa paling perkasa
    Merasa paling berkuasa

    Ini kata kataku
    Mungkin tidak baku
    Dan juga tidak laku
    Berharap “pak” merubah perilaku

    Ini bukan hinaan kotor
    Cuma sajak dalam bokor

    Juni,2011



    Sajak nestapa apu

    Apu kini sendiri, terjebak dalam istana alang alang
    Hanya berteman dengan rindu renta pada umbu tua  di negeri sabang

    Kala fajar terpancar melewati alang alang jarang
     Apu merangkai jejak menuju kubur batu purba di dekat menara
    Lengan berayun menyapu lumut zaman
    Terkuak ukiran umbu dan apu di bawah arca ratu dan raja

    Saat mentari di tengah hari
    Telapak telapak keriput menyusuri lembah ilalang
    Sekilas mengingat jejak lalu kala umbu dan rambu muda
    Menulis cinta lugu di antara karang dan ilalang

    Ah… umbu tua
    Apu semakin nestapa bila langit memerah
    Mata  hanya menyapa cakrawala perbukitan jauh
    Tanpa menyeka tetesan pilu menatap ilusi
    Berharap ada siluet umbu tua tiba walau hanya sekejap

    Malam akhirnya runtuh kelu
    Menyelimuti kulit tua yang menanti semenjak muda
    Penuh harap pada umbu, kembali membawa janji tentang  cinta sempurna tanpa ratap…


    Depan kampus warmadewa, 18,mei,2011

    * apu ; nenek / panggilan khas untuk wanita sumba yang sudah tua 




    Bapak jangan tuli!! Buka mata!!!!

    Tambang mengambang
    Karrna asing merambang tanah mahaparang

    Kami garang
    Kami berang
    Dewa marapu mengerang

    Bapak !!!!!!!
    Kami akan membakar hingga ke akar

    Bapak!!!!!!
    Kami akan membunuh ampuh hingga rubuh

    Bapak!!!!!
    Jangan tuli!!!!
    Seakan tak punya nyali
    Apakah kau sudah dibeli??!!!

    Bapak jangan buta!!!
    Ayo buka mata!!!

    Kamar laba laba putih,11,mei,2011
    ®TOLAK TAMBANG SUMBA


    Postingan ini dikirim oleh:
    Umbu Nababan


    Tinggal di Kota Waingapu, Sumba Timur. Dari Kananggar, Nusa Tenggara Timur, Indonesia

    Baca Juga
    SHARE
    Marko Kono
    Hi, My name is Marko. Pencinta Malam, Penyuka Hitam, Penikmat Gelap dan Pengurus Tapaleuk, hehehe 😃 Selain blogging, punya pekerjaan pribadi sebagai Staf Teknik bagian Pengawasan Proyek. Teknik Sipil menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupanya.
    Masukan Email Anda Untuk Dapatkan Update GRATIS!

    Artikel Terkait:

    Post a Comment

    Iklan Tengah Post