Iklan Billboard 970x250

Artikel Terkait

Untuk Anda yang mau mengirimkan karya literasimu, baik itu cerpen, puisi, esai dan karya literasi lainya, silahkan Anda buka disini Kirim Artikel. LINK UNDUH SUDAH SAYA PERBAIKI. (Khusus Pada Artikel Aplikasi Android )

×
Cerpen No Another One, Frisca Amelia

Iklan 728x90

Cerpen No Another One, Frisca Amelia

    cerpen cinta,cerpen cinta romantis,cerpen cinta sedih,cerpen cinta segitiga,cerpen cinta pertama,cerpen cinta singkat,cerpen cinta islami,cerpen cinta sejati,cerpen cinta dan persahabatan,cerpen cinta dalam hati

    No Another One       
    Oleh : Frisca Amelia

                "Maafin aku, De, tapi hubungan ini harus kita akhiri, aku sudah nggak bisa lagi bersamamu," seru Dion sambil menunduk. Entah mengapa dia tidak berani menatap cewek di depannya. Dia tidak memiliki keberanian sebesar itu.

                Deandra hanya diam. Air mata sudah keluar membasahi pipi. Dia sudah menduga ini. Belakangan sikap cowok itu berubah aneh. Dingin dan menjauh. Bahkan saat mereka jalan bersama.

    "Kenapa?"

    Hanya itu yang bisa ditanyakan gadis berparas manis itu.

    "Jujur saja, hubungan ini sudah membosankan. Aku jenuh denganmu, De," jawab cowok itu. Ponselnya lalu berbunyi. Dion lalu segera mengangkatnya. Ekspresi wajahnya berubah ceria. Tak lama dia pergi begitu saja, tanpa pamit meninggalkan Deandra seorang diri saja di warung rujak cingur langganan mereka. Si ibu pemilik warung itu menatap kasihan pada gadis itu. Dua anak muda itu sudah setahun menjadi pelanggannya. Mereka juga jadian di tempat ini dan sekarang pasangan itu juga putus di tempat ini. Deandra segera bangkit berdiri dan membayar pesanannya. Dia sadar ibu pemilik warung dan orang - orang yang sedang makan, melihat dia, merasa iba dan mungkin kasihan padanya.

               Sesudah membayar makanannya, gadis itu segera keluar dari warung. Menikmati sejenak udara sore yang sudah hampir berganti malam. Dia lalu memanggil taksi dan buru - buru pulang. Tangisannya yang berusaha ditahannya baru terlepas saat dia sampai di kamarnya yang dia kunci dari dalam.

               Ingatannya melayang saat setahun lalu, dia bertemu Dion untuk pertama kalinya. Sama - sama menjadi murid baru di SMA Garuda Jaya. Terus menjalani MOS dan dihukum bersama. Dan ternyata mereka satu kelas. Di situlah semuanya berawal. Mereka berkenalan. Tidak perlu waktu lama untuk akhirnya berpacaran, karena sejak pandang pertama Deandra sudah menyukai Dion. Tangisan gadis itu makin deras. Di warung rujak cingur itulah, Dion menyatakan cinta padanya. Tapi di tempat itu pula, cowok itu mengucapkan kata putus dan meninggalkan dia sendirian.

               Wajah Deandra kusut. Dia bersiap untuk pergi ke sekolah. Dan dia juga harus bersiap bertemu Dion. Tak mungkin baginya membolos. Dia tidak ingin orang tuanya cemas.

    "Kamu kenapa, nak?" tanya ibunya. Rupanya bukan hal mudah menutupi sesuatu dari seorang ibu. Sedang ayahnya hanya menatapnya penuh perhatian.

    "Tidak apa,bu. Ayah dan ibu tidak usah cemas. Aku cuma memikirkan pelajaran yang belum kupahami di sekolah. Tapi nanti aku minta diajari Eka, deh," ujarnya sambil tersenyum. Eka, cewek berkacamata itu adalah sahabatnya dan gadis terpintar di sekolah. Selalu juara kelas, tapi tidak pernah sombong dan selalu mau membagi ilmu pada teman - temannya.

                 Gadis itu lalu keluar dari rumah, lalu berjalan pelan menuju sekolah dengan lesu. Dia juga kembali melamun.

    Tin....tin...tin....!!! Suara bel sepeda motor mengejutkannya. Dia tersadar tadi berjalan terlalu ke tengah. Deandra segera menepi. Tapi motor itu malah berhenti di dekatnya dan si pengendara membuka helm hitamnya. Cewek bertubuh mungil itu terkesiap kaget. Darren, teman sekelasnya. Dia tidak pernah benar - benar mengenal cowok itu. Cowok paling nakal di sekolahnya. Bad boy banget dah. Reputasinya sudah tersohor di seluruh sekolah, bahkan sampai keluar sekolah. Iya, mana mungkin siswi yang baik macam dirinya mau berteman dengan Darren?

                 Darren turun dari motornya dan menghampiri Deandra. Gadis itu berusaha kabur, tapi terlambat cowok itu sudah mencekal tangan kirinya. Cewek itu meronta, menjerit, bahkan menampar wajah cowok itu. Tapi semua sia - sia. Orang - orang yang lewat juga tidak peduli. Mungkin mereka mengira ada acara reality show atau pertengkaran sepasang kekasih. Yang jelas, mereka tidak mau ikut campur.

    "Ssttt....diam!!!! Tutup mulut atau gue bakal beneran nyulik lo,"' bisik cowok itu pelan. Deandra menurut, langsung terdiam seketika.

    "Sekarang ayo ikut gue. Awas jangan coba - coba kabur. Lo tau kan akibatnya?" lanjutnya lalu membimbing cewek itu ke motornya.

    Darren kemudian naik ke motornya dan menyuruh Deandra  duduk di boncengan. Terpaksa gadis itu menurut. Dia masih ingat perkataan teman - temannya, bahwa cowok itu tidak pernah melepaskan orang yang membuat masalah dengannya.

    "Kita ke sekolah kan?" tanya gadis itu, saat cowok itu menstarter motornya, lalu memacunya kencang. Membuat Deandra mau tak mau memeluk pinggang cowok itu. Hatinya berdebar ketakutan, sedang Darren tersenyum melihat sekilas tangan cewek itu melingkar erat di pinggangnya.

               Sekolah sudah di depan mata, tapi Darren malah melewatinya begitu saja, sedang cewek yang diboncengnya kelihatannya belum sadar kalau tempat yang dia tuju sudah terlewat. Motor itu lalu berhenti,

    "Ayo turun!!!" serunya. Deandra perlahan membuka matanya yang terpejam ketakutan. Eh, ini? Ini kan warung rujak cingur, langganannya dan Dion. Ngapain tuh cowok malah bawa dia ke sini, bukan ke sekolah?

    "Sudah ah, gue laper. Mau makan dulu!" seru Darren tanpa diminta dan langsung bergegas masuk sambil menarik gadis itu masuk ke dalam warung. Gadis itu bingung, dia tidak ingin masuk ke sana, tapi juga takut menolak cowok itu. Dia bahkan tidak berani bertanya mengapa dia tidak diturunkan di sekolah. Pokoknya dia harus hati - hati sama cowok yang menculiknya ini.

    "Eh, lo kenapa? Trauma sama rujak?" tanya cowok itu saat melihat wajah pucat Deandra. Gadis itu menggeleng. Cowok itu lalu mengajaknya duduk sambil memesan dua rujak.

    "Gue nggak," geleng Deandra.

    "Siapa bilang buat lo? Itu buat gue semua. Lo bengong aja, liatin gue makan,"

    Jawaban asal cowok itu membuat cewek di depannya melongo. Keterlaluan banget sih nih cowok, batinnya. Tak lama dua rujak sudah terhidang di depan mereka. Darren menyantapnya dengan lahap, sedang Deandra hanya bisa melihatnya dengan tatapan kepingin.

    "Sudah, kalo pingin makan aja," ujar Darren sambil menyodorkan rujak yang belum tersentuh. Gadis itu menggeleng. Gengsi dong, tadi nggak mau masa sekarang disantap juga? Lagian makannya bareng penculik lagi.

    "Pantes aja lo kecil begitu. Kurang makan," komen cowok yang masih asyik menyantap makanan di depannya itu.

    Deandra melotot tak terima,

    "Enak aja, gue juga bisa makan dua sampe tiga porsi rujak kalo gue mau," sahutnya memberanikan diri. Darren hanya tertawa kecil. Rujaknya yang pertama sudah habis. Dia lalu menarik yang kedua dan menyendok tempe lalu menyodorkannya ke depan gadis itu.

    "Buka mulut. Haaaahhh....!!!" ujarnya.

    "Apaan sih memangnya gue anak kecil?" gerutu cewek itu. Darren diam saja, tapi dia tetap menyodorkan sendok itu ke depan Deandra.

    Semua orang di warung itu kini melihatnya sambil tersenyum - senyum. Mereka pasti mengira dia dan Darren pasangan kekasih yang lagi dimabuk cinta. Tak ingin terus menjadi pusat perhatian, cewek itu mengambil sendok itu dari tangan cowok di depannya itu,

    "Gue bisa makan sendiri," serunya lalu memakan rujak itu dengan lahap. Dalam sekejap makanan itu ludes tak bersisa.

    "Nah, gitu dong. Benci sama orangnya. Jangan benci sama rujaknya," ucap Darren sambil mengambil tisu dan mengelap mulut Deandra. Wajah cewek itu merona merah. Yah ampun, masa sih dia baru kemarin sekarang udah salting gara - gara cowok lain?

    "Nggak nyangka yah. Kecil - kecil rakus juga," celetuknya, membuat Deandra kembali membelalakkan matanya pada cowok itu.

    "Tapi tetap cantik, kok," lanjut Darren kembali membuat wajah Deandra memerah. Yah ampun, cowok ini bisa membuatnya moodnya naik turun terus. Kalo seharian sama dia, bisa - bisa aku jadi cewek super moody dong desah cewek itu dalam hati.

    Darren lalu mengajak cewek itu jalan - jalan lagi naik motor. Kali ini motor berjalan tenang. Tidak sekencang tadi. Hawa mendung nan sejuk membuat cewek yang diboncengnya terbuai. Dalam sekejap, Deandra sudah terlelap di punggung Darren.

               Keesokan harinya, di sekolah Eka mencegat Diandra,

    "Lo kemana kemarin? Kok gak masuk sekolah? Gak ijin lagi. Lagi ada masalah sama Dion?" tanyanya bertubi - tubi. Diandra tersenyum sambil menggeleng,

    "Gue udah putus sama Dion," jawabnya.

    "Tapi kok lo gak kayak orang patah hati? Masih keliatan ceria aja. Lo boong kan?"

    "Gue beneran udah putus sama Dion. Tuh liat dia aja jalan sama Wati. Gue tetap ceria karena kemarin Darren ngebikin gue lupa sakit hati yang gue rasain,"

    Eka menggeleng keras,

    "APA??? Jadi kemarin seharian lo sama Darren? Lo putus sama Dion dan move on ke Darren? Yang bener aja, De. Lo tau kan siapa Darren itu. Dia cowok yang reputasinya paling buruk di sekolah ini. Gue gak setuju, De. Lo boleh move on, tapi temuin cowok yang lebih baik dari Dion," serunya.
    Deandra terlihat bingung dengan tingkah sahabatnya itu,

    "Emang Darren begitu buruknya ya? Keliatannya dia punya sisi baik juga," sahutnya pelan.

    "Aduh, De. Lo kok bisa sih ikutan terbius sama pesona Darren? Udahlah, yang penting gue sebagai sahabat lo cuma mau ngingetin lo. Gak ada untungnya deket sama cowok berandalan kayak Darren. Yang ada lo malah rugi. Kan musuh dia banyak, kalo lo jadi sasaran musuhnya gimana? Terus kalo lo terusan sama dia, imej lo sebagai murid yang baik bisa hancur. Entar yang ada lo malah dicap berandalan juga kayak dia. Kemarin aja lo udah diajakin bolos, ke depannya gak tahu deh pengaruh buruk apa yang dia tanemin ke otak lo," nasehat Eka panjang lebar. Deandra cuma manggut - manggut saja. Tapi dalam hati, dia tidak sepenuhnya setuju pendapat sahabatnya itu. Dia yakin di balik sikap serampangan dan semaunya sendiri, Darren sebenarnya cowok yang baik.

                 Meskipun sudah diperingatkan dan ditegur oleh Eka, juga oleh teman - temannya yang lain,  hubungan Deandra dan Darren kian dekat. Hingga akhirnya mereka benar - benar jadian. Cowok itu juga menyatakan cintanya di warung rujak cingur sama seperti Dion dulu. Tapi gadis yang sedang dimabuk cinta itu tidak mempermasalahkannya. Baginya terpenting cowok itu tidak menggoreskan luka yang sama seperti Dion.

             Hari itu, sepulang sekolah. Deandra pergi ke warung tersebut untuk menunggu Darren. Cowok itu katanya masih ada perlu dan menyuruh ceweknya berangkat dulu ke warung. Tapi ditunggu sampai sore, cowok itu tidak nongol juga. Ponselnya juga tidak aktif dari siang. Dengan kesal, Deandra berjalan keluar warung.  Saat sampai di luar, tiba - tiba ada yang membekapnya dari belakang,  membuatnya tak sadarkan diri dan membawanya masuk ke dalam mobil.

                 Ponsel salah seorang anak buah Darren berbunyi, setelah diangkat cowok itu segera memberikan ponselnya pada Darren,

    " Halo, Dar. Lo pasti kenal suara ini kan?" Lalu terdengar suara di seberang,

    "Ayo bicara!!! Bicara sama cowok lo!" Deandra menggeleng. Lalu tamparan keras mendarat di pipi kanan gadis itu, hingga sudut bibirnya pecah dan berdarah.

    "Bicara cepat!!! Bilang sama cowok lo buar nolongin lo!"

    Deandra tetap bergeming. Dia tidak mau Darren sampai datang dan terluka karenanya. Sebisa mungkin dia ingin melindungi cowok yang dicintainya itu.

    "Cewek lo keras kepala juga ya," ujar orang di seberang, lalu  menjambak rambut Diandra.
    "Aaakkhhh....!!!" teriak gadis itu kesakitan.

    "Nah, lo dengar kan suara cewek lo. Kalo lo mau dia selamat, lo meski datang ke gudang anggrek sendirian. Kalo lo bawa temen lo, satu orang aja. Gue gak jamin wajah manis cewek lo ini bakalan masih utuh," tegasnya sambil menutup ponsel.

              Darren bergegas pergi untuk menolong Deandra. Sampai di sana, beberapa orang menunggu untuk menghajar cowok itu. Dia sampai babak belur karena tidak berani melawan dan resikonya Diandra yang akan terluka kalau sampai dia melawan.  Gadis yang sedang diikat itu berteriak agar orang -  orang berhenti memukuli Darren. Hatinya miris melihat cowok yang dicintainya terluka demi dirinya. Tapi tak lama kawan - kawan Darren datang membantu. Kalah kuat, geng itu kocar kacir dan melarikan diri. Mereka lalu membawa Darren dan Diandra ke rumah sakit.

                  Orang tua gadis itu dan Eka segera bergegas pergi ke rumah sakit. Deandra terpaksa berbohong pada orang tuanya kalau dia mengalami kecelakaan. Tapi Eka tahu. Semua terjadi karena Darren. Dia lalu bergegas ke kamar rawat cowok itu.

    "Gue mau minta sama lo, kalo lo beneran sayang sama De. Tinggalin dia. Jangan temui dia lagi," pintanya tegas. Darren hanya terdiam di ranjangnya,

    "Apa lo gak sadar ini semua terjadi karena lo? De pasti gak bakal mau dengerin gue. Karena itu, gue minta lo yang jauhin dia. Lo juga pasti gak mau kan dia sampai mengalami hal ini lagi?" lanjut Eka. Darren mengangguk, lalu termangu diam. Eka benar. Kalau dia memang mencintai Diandra, dia harus meninggalkan cewek itu. Cewek semanis Diandra tidak bisa menjadi bagian dari  dunianya yang kelam.

                Sudah seminggu lebih, Darren menghilang. Dia tidak ada di sekolah, juga di warung rujak cingur langganannya. Teman - temannya juga tidak tahu kemana cowok itu pergi. Deandra benar - benar cemas. Dia tidak bisa menghubungi cowok itu. Namun beberapa hari kemudian, Darren meneleponnya,

    "Aku ingin bertemu denganmu, De. Untuk terakhir kalinya sebelum aku pergi. Di warung rujak cingur langganan kita sepulang sekolah nanti," ucapnya di seberang sana lalu menutup telepon.

    "Siapa itu, De?" tanya Eka "apa itu  Darren?" tanyanya lagi.

    Diandra mengangguk,

    "Dia meminta gue menemuinya nanti sepulang sekolah," sahutnya pelan.

    "Jangan pergi, De. Jangan temui dia!"

    "Tapi, Ka...,"

    "Apa lo lupa apa yang terjadi sama lo saat itu? Lo diculik dan terluka. Dengar, gue sahabat lo. Gue gak pingin lo ngalamin hali itu lagi. Ortu lo juga pasti gak pingin. Karena itu demi kebaikan lo, sekali ini lo dengerin nasehat gue, jangan pergi ke sana," ujarnya.

    Deandra menghela nafas, lalu mengangguk,

    "Baiklah, aku tidak akan ke sana," ujarnya dengan berat hati. Sebenarnya dia sangat merindukan Darren, tapi dia juga tidak mau orang tuanya dan Eka mengkhawatirkan dirinya lagi.

                 Darren melirik jam tangannya. Sudah lama dia menunggu. Kelihatannya Deandra tidak akan datang. Dengan kecewa dan sedih, dia pergi dari warung itu.

                 Hari sudah malam, saat ponsel Deandra berdering,

    "De, ini teman Darren. Dia ada di rumah sakit sekarang. Kondisinya kritis. Sebaiknya kau segera ke sini,"

    Ponsel gadis itu merosot jatuh dari tangannya. Dia menangis keras, hingga ayah dan ibunya ikut panik. Tapi Deandra hanya mengatakan ingin pergi ke rumah sakit tempatnya dirawat dulu. Ayahnya lalu mengantar gadis itu dengan mobil. Deandra berlari masuk bangsal rumah sakit. Menanyakan pada teman - teman Darren yang berjaga di mana cowok itu,

    "Terlambat, De. Darren sudah meninggal," jawab salah seorang dari mereka dengan wajah muram.

    "Tidaaaak!!!!" teriak Deandra keras, lalu jatuh pingsan.

               Deandra menangis pelan dan membelai nisan bertuliskan Darren Hendrawan. Jadi ini maksud ucapan cowok itu saat di telepon terakhir kalinya? Cowok itu benar - benar pergi untuk selamanya. Menurut teman - temannya, Darren mengalamai kecelakaan sewaktu balik dari warung rujak itu.

    "Maafkan aku, De. Seharusnya waktu itu aku tidak mencegahmu pergi," bisik Eka di sampingnya.
    Deandra menggeleng lemah,

    "Tidak apa, Ka. Ini bukan salahmu. Aku tahu kau melarangku pergi demi kebaikanku," jawabnya pelan.

    Eka meraih dan memeluk sahabatnya itu.

             Deandra berdiri di depan warung rujak cingur langganannya. Betapa banyak kenangan di tempat itu. Suka, duka, bahkan kehilangan. Dia berbalik sambil menyusut air matanya. Suatu saat nanti, dia akan kembali ke tempat itu. Menyusun kenangan baru. Sama seperti dia dan Darren dulu.

    The end........


    Postingan ini dikirim oleh:
    Frisca Amelia

    Alamat: Caman Baru V, Bekasi-Jawa Barat, Indonesia
    Kutipan Cerpen: "Dia berbalik sambil menyusut air matanya. Suatu saat nanti, dia akan kembali ke tempat itu. Menyusun kenangan baru. Sama seperti dia dan Darren dulu."
    Baca Juga
    SHARE
    Marko Kono
    Hi, My name is Marko. Pencinta Malam, Penyuka Hitam, Penikmat Gelap dan Pengurus Tapaleuk, hehehe 😃 Selain blogging, punya pekerjaan pribadi sebagai Staf Teknik bagian Pengawasan Proyek. Teknik Sipil menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupanya.
    Masukan Email Anda Untuk Dapatkan Update GRATIS!

    Artikel Terkait:

    Post a Comment

    Iklan Tengah Post