Iklan Billboard 970x250

Artikel Terkait

Untuk Anda yang mau mengirimkan karya literasimu, baik itu cerpen, puisi, esai dan karya literasi lainya, silahkan Anda buka disini Kirim Artikel. LINK UNDUH SUDAH SAYA PERBAIKI. (Khusus Pada Artikel Aplikasi Android )

×
MENJAWAB MALAM, Kumpulan Puisi Karya Umbu Nababan

Iklan 728x90

MENJAWAB MALAM, Kumpulan Puisi Karya Umbu Nababan

    MENJAWAB MALAM, Kumpulan Puisi Karya Umbu Nababan

    Menjawab malam

    Malam terus bertanya kemana
    Membawa kaki yang terus merana
    Berdarah dan penuh nanah
    Mengaliri selokan menganga

    Katakan pada ibuku
    Jangan menunggu di pintu
    Aku tak akan kesitu
    Meniduri sprei ratu

    Aku akan kesana
    Tidur di atas jalanan
    Bercerita dengan mereka yang malang
    Karna kemiskinan telah menjadi tulang

    Ada anak anak kecil disini
    Telanjang dan terus berlari
    Mengejar malam dan mimpi
    Menjadi germo dan pelacur cilik

    Hentikanlah kata kata malam
    Kakiku bukan tanpa tujuan
    Aku tidak hidup dalam kelam
    Mereka denganku satu kandungan
    Mereka denganku satu kandungan
    satu kandungan


    Doa II

    karya Umbu Nababan dan Imelda Hebi
    Hanya dua tangan terkatup
    Menyeringai penuh takjub
    Biarkan kata kata ini hanyut
    Dan aku bersembunyi dalam sujud
    Suaraku sayup sayup
    Malu sudah lama bergelayut
    Aku sudah lama remuk redup

    Di keheningan aku mencariMu
    Memang hari sudah terlanjur siang
    Tapi aku terlampau haus
    Dan Kaulah penghabisan persinggahanku

    Suara dalam senyap
    Di telan malam lumpuh
    Tubuh dunia mudah rapuh
    Di kakiMu aku bersimpuh

    Semoga malam-malamku kau taburi serangkai kemilau terang
    Karena Kaulah Sang Empunya cahaya atas cahaya

    Amin Ya Tuhanku



    Langit penuh api

    Anak anak baru mulai di tenun
    Memakai payudara rambu yang ranum
    Doa doa sebelum tidur
    Memahat syaraf bayi yang rapuh
    Dalam asa tanpa sauh
    kita membias jauh
    berlayar tanpa kayuh
    Menebar kata kata baru
    Menjahit suara hingga seluruh penjuru

    Kelak satu hari
    Marapu tanpa pahapa apu
    Hinggi merayap debu
    Tanpa kandingang
    Tanpa kataga
    Tanpa woleka
    Hanya kuda pacu
    Mesin yang melaju
    Kencang
    Kencang sekali
    Merambat hingga ujung menara
    Kita akan tertawa
    Terbahak bahak
    Hingga payudara terjungkal pada bara api
    Kita tertawa
    Matawai mutung nanyaka njadi mataepi
    Dan kita terus tertawa

    Dps, agustus, 2011



    Mengejar fajar merdeka

    Merayapi malam, dalam jelajah hening
    Menerawang gulita mencari persembunyian setapak
    Pada tongkat penyanggah di tabur semangat
    Menyerapi longsongan batu dari celah celah angin

    Suara alam di terjemahkan dari pepohonan pinus
    Melewati lembah dan menangkap kelopak kesejukan
    Riuh peluh membasahi lekukan pori pori
    Membias hingga jejak jejak yang berkulit baru

    Di lereng bebatuan berusaha menangkap bintang segenggam
    jadikan cahaya penerang membelah kabut subuh
    terus dan terus menjejak pucuk dahan devani
    menerjemahkan fajar dari sudut kelopak mata

    menjadi penerjemah alam
    berbahasakan langit lazuardi
    lenyapkap takut dalam kabut
    terus merayapi malam, dalam jelajah hening
    mengejar fajar merdeka

    lereng gunung batur , 17 agustus, 2011



    Surat untuk bidadari

    Dari balik kubur batu tua, bersandar pada senja di atas menara
    Ku sulam kata kata dalam doa, terhantar surat untuk bidadari di balik awan
    Berharap satu waktu engkau melirik memberi senyum dan tetesan cinta
    Membasahi daun dan batu dari telaga lama hingga puncak wanggameti

    Pada tarian tarian suci aku menggodamu yang lagi merona
    Gemulai ruas jari rambu dibalut hinggi
    Menggoda birahi dewa dewa purba, agar mencinta lebih lama
    Semarakkan hentak irama tambur para umbu, terus mengalun sakral
    Mengajak Ilalang beribu, menari tergoda hingga ke awan

    Aku merindumu hingga penuhi angkasa
    Bila tiba , ku arak pelangi hingga menembusi dinding karang
    Berharap cintamu hanya untuk kami
    Penghamba bidadari merona di negri selatan

    Engkau bidadari tergoda oleh selaksa hamayang
    Terhantar kata kata cinta dari jari keriput layu
    Bermadha irama pujian marapu
    Dari puncak, lembah hingga mengharumi seluruh lautan selatan
    untukmu bidadari di balik awan

    Dps, agustus, 2011



    Kami memanggilmu pa

    Pada kata kata sederhana
    Engkau mengadu pingggul lebam pada matahari
    Tangan menghujam membelah pagi
    menjahit cita cita pada bocah bocah berwarna pelangi
    Engkau mengeluh dalam tawa
    memberi cinta dalam diam
    Sebuah kerangka benang yang terlihat kusut dari mataku
    Butuh waktu untuk memejam melihat celah celah dalam benang

    Aku melihat tarung tarung mu
    Meresap hingga akar akar padi
    Tapi engkau bersembunyi
    Dengan diam sederhana

    Dari balik jeruji asa
    Yang terkunci paku paku diam
    Mereka memanggilmu pak
    Kami memanggilmu pa…

    denpasar,agustus, 2011

    Postingan ini dikirim oleh:
    Umbu Nababan


    Tinggal di Kota Waingapu, Sumba Timur. Dari Kananggar, Nusa Tenggara Timur, Indonesia
    Baca Juga
    SHARE
    Marko Kono
    Hi, My name is Marko. Pencinta Malam, Penyuka Hitam, Penikmat Gelap dan Pengurus Tapaleuk, hehehe 😃 Selain blogging, punya pekerjaan pribadi sebagai Staf Teknik bagian Pengawasan Proyek. Teknik Sipil menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupanya.
    Masukan Email Anda Untuk Dapatkan Update GRATIS!

    Artikel Terkait:

    Post a Comment

    Iklan Tengah Post