Iklan Billboard 970x250

Artikel Terkait

Untuk Anda yang mau mengirimkan karya literasimu, baik itu cerpen, puisi, esai dan karya literasi lainya, silahkan Anda buka disini Kirim Artikel. LINK UNDUH SUDAH SAYA PERBAIKI. (Khusus Pada Artikel Aplikasi Android )

×
Cerpen DANIAR, Arti dari Sebuah Ketulusan Cinta oleh Frisca Amelia

Iklan 728x90

Cerpen DANIAR, Arti dari Sebuah Ketulusan Cinta oleh Frisca Amelia

    Cerpen DANIAR, Arti dari Sebuah Ketulusan Cinta oleh Frisca Amelia

    DANIAR
    Oleh: Frisca Amelia

         Niar berdiri maju dengan kaku. Dia tidak pernah menyangka hari ini akan tiba juga. Hari dimana dia merelakan pria yang dicintainya menikah dengan wanita lain. Tangan kanannya terulur pada Dani dan calon istrinya, Mira. Dani terdiam kelu menatap gadis di depannya itu. Gadis yang pernah sangat dicintainya. Pernah mengisi relung - relung hatinya. Namun akhirnya takdir pula yang memisahkan mereka. Atau, mungkin memang sejak awal mereka tidak digariskan berjodoh. Waktu seolah berputar kembali ke masa lalu. Masa dua puluh tahun yang lalu, saat Dani dan Niar bertemu untuk pertama kalinya...

    Flashback on

         "Niar!!! Niar!!! Kemari sebentar!!!" panggil Pak Wijaya, ayah Niar. Putri kecilnya yang sedang bermain boneka itu segera keluar dari kamar, sambil menggendong boneka panda berwarna putih hitam kesayangannya.

    "Nah, Niar, kenalkan ini Tante Riva dan itu Dani, anaknya. Mulai sekarang mereka akan tinggal dengan kita. Tante Riva akan menjadi ibumu dan Dani akan menjadi kakakmu," jelas ayahnya.
    Niar hanya mengangguk tak mengerti kenapa wanita yang tidak dikenalnya itu akan menjadi ibunya. Dia kan sudah punya. Yah, meskipun ibunya itu pergi. Kata ayahnya dulu, ibunya tidak akan pernah kembali. Wanita yang melahirkannya itu sudah bersama Tuhan di surga, itulah yang dibilang ayahnya waktu itu sambil menangis. Niar tidak pernah bertanya lagi, karena setiap kali gadis kecil itu menyinggung soal ibunya, raut wajah ayahnya selalu berubah sedih. Dia bahkan pernah melihat ayahnya itu diam - diam menangis di ruang kerjanya sambil menatap foto ibunya. Tak ayal, Niar kecil juga ikut menangis. Semenjak itu, dia tidak pernah lagi menanyakan soal ibunya. Dia tidak mau melihat sosok ayah yang begitu disayanginya itu sedih.

    Dan sekarang, ayahnya tiba - tiba datang dan mengatakan wanita itu akan menjadi ibunya dan bocah kurus berkacamata bulat itu akan menjadi kakaknya. Wanita itu mendekat pada Niar. Tersenyum ramah padanya. Mengajaknya bercakap dan mengobrol. Niar langsung merasa dekat dengannya, seolah dia mendapatkan kembali sosok ibu yang selama ini dirindukannya,

    "Aku tidak mau punya adik bulat dan pendek kayak dia," celetuk bocah lelaki yang tadi datang dengan ayahnya tiba - tiba, sambil menunjuk ke arah dirinya.

    "Dani! Kamu tidak boleh bicara seperti itu! Mulai sekarang, Niar akan menjadi adikmu!" tegur wanita itu. Anak lelaki itu melotot menatap Niar dari balik kacamata yang dipakainya. Awas ya, pendek, beraninya kau membuat ibuku memarahiku, gerutunya dalam hati. Niar balas menatap tak takut. Mana mungkin dia takut pada bocah lelaki kurus kering itu.

        Dari situlah semua berawal. Pertemuan pertama dimana dua anak kecil yang saling membenci dan selalu bertengkar itu. Mereka selalu saja saling menyalahkan satu sama lain. Pak Wijaya dan Ibu Riva tidak tahu lagi cara mendamaikan dua anak itu. Semua itu terus berlangsung hingga dua anak itu beranjak remaja.

        Bel tanda pulang berbunyi. Niar segera mengemas buku pelajaran sejarahnya yang masih ada di atas meja, lalu Ghea, sahabat karibnya datang mendekat,

    "Dekatkan aku dengan kakakmu, dong," serunya. Niar menggeleng,

    "Kau kan sudah mengenalnya. Dekati saja sendiri. Aku mah ogah jadi mak comblang." sahut Niar sambil berdiri dan merapikan baju seragam putih abu - abunya yang kusut.

    Ghea memasang wajah cemberut,

    "Kenapa sih kau tidak mau membantuku?" tanyanya sambil duduk di bangku di depan meja Niar.
    Niar tertawa melihatnya. Jujur saja, dia merasa heran dengan para cewek teman - temannya itu, mereka selalu saja mencari cara mendekati kakak tirinya itu. Memang sih, setelah menjadi remaja, kakaknya itu berubah drastis. Tak ada lagi anak lelaki kurus berkacamata, kini yang ada hanya cowok remaja berwajah tampan dengan tubuh atletis. Matanya hitam kelam dengan alis melengkung tajam. Hidungnya bangir dilengkapi bibir tipis yang membuat wajah itu makin menarik perhatian para abg cewek. Tapi perubahan itu tidak hanya berlaku pada Dani, Niarpun sama. Tidak ada lagi gadis kecil bertubuh bulat. Yang ada adalah gadis manis berambut ikal panjang dan lesung pipi yang memperindah wajah itu setiap kali gadis itu tersenyum. Tubuhnya langsing dan tinggi semampai. Tak hanya Dani yang menjadi rebutan para cewek, cowok - cowok juga antri untuk bisa mendekati Niar. Tak jarang pula, teman - teman Dani meminta tolong pada cowok itu agar bisa mendekatkan mereka dengan adik tirinya itu. Tapi pemuda itu selalu tertawa, siapa yang bakal tahan dengan adiknya itu? Apa mereka tidak tahu Niar itu cerewetnya bukan main? Teman - temannya itu hanya tertarik pada kemolekan tubuh adiknya itu tanpa tahu sifat asli Niar.

         Hari itu, Niar pulang sekolah saat senja sudah menjelang. Itu karena Niar yang menjabat sebagai sekretaris OSIS masih harus mengerjakan tugas proposal kerja baktinya yang tertunda. Gadis itu memang dipercaya untuk jabatan itu, karena dia memang cerdas dan cekatan. Berbeda dengan Dani, yang sering membuat ulah, yang membuat guru dan orang tua mereka pusing tujuh keliling. Dimarahi atau dihukum sekalipun, Dani tetap saja bandel dan tidak kenal jera. Berkelahi dan merokok sudah menjadi hobinya sehari - hari. Niar terkadang tak habis pikir dengan kakak tirinya itu, kenapa mau sakit babak belur dipukuli oleh orang lain.

        Sebuah motor besar menghadang langkah Niar. Hati kecil gadis itu berdesir ketakutan saat melihat sang pengendara motor bergegas turun dan menghampirinya. Itu adalah Elang, musuh bebuyutan Dani dari sekolah sebelah. Dia bergegas berbalik hendak lari, tapi cowok yang memang berniat menangkapnya bergerak lebih cepat. Cowok bertubuh atletis itu langsung membopong tubuh gadis itu. Percuma Niar meronta. Dia tidak cukup kuat untuk melawan penculiknya itu.

        Elang diam terpaku menatap gadis yang diikat di kursi itu. Ternyata benar yang didengarnya, adik Dani itu sangat cantik. Dia saja sampai terpesona dibuatnya. Seandainya dia tidak memiliki dendam yang mendalam pada kakak gadis itu, dia pasti sudah merasa iba dan melepaskan gadis itu.

    "Lepaskan!!! Hei kau, lepaskan aku!!!" teriak Niar padanya. Gadis itu terus saja berteriak dan meronta, berusaha melepaskan tali yang mengikatnya erat.

    Elang tertawa mendengarnya, lalu menggeleng,

    "Tidak, aku tidak akan melepasmu sebelum kakakmu itu datang kemari dan menyelamatkanmu," sahutnya.

    "Tapi kenapa? Kenapa kau begitu ingin membalas kakakku?"

    "Itu semua karena kakakmu itu sudah menghajar dengan sahabatku beberapa hari lalu. Dan kau tahu apa yang terjadi pada sahabatku itu? Kedua tangan dan kakinya patah. Itu semua gara - gara kakakmu tidak berhenti memukulinya, meski temanku itu sudah terkapar tak berdaya," desisnya menahan amarah yang berkecamuk di dalam dadanya.

    "Lalu sampai kapan? Sampai kapan kalian terus berkelahi seperti ini? Setelah ini, mungkin kakakku yang akan membalas kalian. Kemudian kalian kembali membalasnya. Begitu seterusnya, tidak akan ada akhirnya, kecuali salah satu dari kalian mau mengalah," ujarnya.

    Ucapan itu membuat Elang tertegun sesaat. Gadis itu benar, tapi dia lalu menggeleng. Tekadnya sudah bulat untuk membalas apa yang dilakukan Dani pada sahabatnya. Dia tidak boleh goyah dan mengubah keputusannya hanya karena ucapan cewek di depannya itu.

       Tak lama kemudian, Dani datang dengan marah. Tanpa basa - basi lagi, dia langsung menghajar Elang dan anak buahnya yang berjaga di gudang tua itu. Dia lalu segera membebaskan adiknya itu. Niar menangis tersedu di pelukannya. Saat Elang hendak memukul cowok itu, Niar yang maju menerima pukulan keras itu di tubuhnya. Cewek itu jatuh tak sadarkan diri. Dani berteriak marah dan menghajar Elang tanpa ampun. Elang pasrah tak melawan. Dia merasa bersalah telah melibatkan gadis itu dalam masalahnya dengan Dani dan sekarang gadis itu malah celaka terkena pukulannya.

         Dani segera membawa adik tirinya itu ke rumah sakit. Untung luka yang diderita Niar tidak terlalu parah. Meski begitu, orang tua mereka marah besar dan menyalahkan Dani, karena ulahnya, sekarang adiknya itu yang menjadi korban. Cowok itu merasa sangat bersalah dan menyesal. Dia berjanji dirinya akan menjadi anak yang baik dan tidak akan berkelahi lagi. Setiap hari, Dani datang dan ikut merawat Niar dengan telaten hingga sembuh. Namun, kini ada perasaan berbeda di hati keduanya. Perasaan yang telah ada sejak lama, namun mereka berdua tidak menyadarinya. Perasaan itu bernama cinta. Bukan cinta antara kakak adik, tapi cinta seorang pria kepada wanita. Cinta sepasang kekasih.

       Hubungan mereka terjalin mesra, namun mereka juga harus menyembunyikannya dari semua orang, karena mereka tahu hubungan cinta mereka salah. Tapi gejolak hati itu terlalu sulit untuk ditahan. Namun, akhirnya rahasia itu terkuak juga. Saat kedua orang tua mereka memergoki putra dan putri mereka itu sedang bercanda mesra. Ayah dan ibu mereka marah besar,

    "Tapi kami bukan saudara kandung," sahut Dani keras, sedangkan Niar hanya menunduk menangis. Pak Wijaya tetap menggeleng,

    "Pak, Bu, kami berdua saling mencintai. Kami mohon. Ijinkan kami menjalin hubungan ini," pinta Dani lagi.

    "Sadarkah kau apa yang baru saja kau ucapkan? Gadis yang kaucintai, gadis itu, dia adalah adikmu sendiri!" tegas Pak Wijaya lagi. Dani tetap tak menyerah, dia terus berusaha membujuk keteguhan hati kedua orang tuanya.

            Orang tua mereka lalu mengambil keputusan untuk memisahkan dua anak mereka. Niar akan dibawa ke luar negeri oleh ayahnya dan melanjutkan sekolahnya. Percuma Dani berusaha menghalangi, ayah tirinya tetap membawa gadis yang sangat dicintainya itu pergi menjauh darinya.

       Tahun berlalu tanpa terasa, Niar kembali ke Indonesia. Bersua kembali dengan keluarganya, termasuk bertemu kembali dengan pria yang dicintainya. Kini mereka sudah sama - sama dewasa, bukan lagi abg belasan tahun. Namun, cinta itu tetap masih ada tersimpan dalam hati. Meski begitu, mereka kini tahu cinta mereka tak akan pernah bisa bersatu. Akhirnya, Niar menerima perjodohan dari orang tuanya, sedang Dani menanggung luka hati yang begitu dalam karena wanita yang dicintainya menjadi milik orang lain. Begitu pula Niar, dia hanya menangis sedih, merelakan cinta pertamanya pergi.


    Flashback off

        Seorang anak lelaki berlari menuju pelaminan, lalu menggoyang tangan kanan Niar,
    "Ibu, ibu, ayo Bu, kenapa lama sekali?" tanyanya sambil menarik tangan Niar. Membuat wanita itu tersadar. Begitu pula Dani yang segera menyambut uluran tangan wanita yang pernah mengisi hatinya itu. Anak itu segera menarik Niar pergi,

    "Ayo, Bu, Ayah sudah menunggu," serunya lagi, sambil terus memaksa ibunya berjalan menuju ayahnya.

         Elang tersenyum melihat istri dan putranya itu berjalan mendekat. Dia masih saja bersandar santai di dinding, menghabiskan minuman di tangannya,

    "Kau ini bagaimana? Mengapa tidak bersalaman dengan Kak Dani dan Mira?" tegur Niar padanya.
    "Aku sudah melakukannya dari tadi. Kau saja yang terus melamun. Kenapa kau masih tidak rela Dani menikah dengan wanita lain?" godanya.

    Niar hanya menggeleng dan menghela nafas sambil balas tersenyum. Dia merasa beruntung, menikah dengan pria sebaik Elang. Dulu, awalnya dia terkejut saat tahu, pria yang dijodohkan dengannya itu adalah Elang, pria yang pernah menculiknya dulu. Tapi, ternyata setelah sekian tahun berlalu, pria itu sudah berubah. Tak ada lagi sosok preman yang dulu menculiknya, kini yang ada hanya pria dewasa humoris yang simpatik dan pengertian. Dia bahkan tak marah, saat tahu Niar pernah menjalin kasih dengan Dani. Kelihatannya, cowok itu malah sudah menduga hal itu, melihat Dani begitu marah saat dia menculik Niar. Karena itulah, Niar bersedia menikah dengannya.

        Elang meraih tangan Niar dan menggendong putra mereka, Andi. Mereka berjalan keluar dari gedung resepsi pernikahan itu. Niar tak henti tersenyum kepada Elang. Dia memang mencintai Dani. Bahkan cintanya itu masih tersimpan di dalam hatinya. Namun kini, juga ada cinta untuk suaminya. Pria yang akan selalu bersamanya, mendampinginya melalui suka duka kehidupan. Niar hanya bisa berharap dan berdoa Dani bisa merasakan hal yang sama kepada Mira. Bisa belajar untuk menerima dan mencintai wanita itu setulus hatinya.


    Tamat...
    Postingan ini dikirim oleh:
    Frisca Amelia

    Alamat: Caman Baru V, Bekasi-Jawa Barat, Indonesia
    Kutipan Cerpen: "Niar hanya bisa berharap dan berdoa Dani bisa merasakan hal yang sama kepada Mira. Bisa belajar untuk menerima dan mencintai wanita itu setulus hatinya."
    Baca Juga
    SHARE
    Marko Kono
    Hi, My name is Marko. Pencinta Malam, Penyuka Hitam, Penikmat Gelap dan Pengurus Tapaleuk, hehehe 😃 Selain blogging, punya pekerjaan pribadi sebagai Staf Teknik bagian Pengawasan Proyek. Teknik Sipil menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupanya.
    Masukan Email Anda Untuk Dapatkan Update GRATIS!

    Artikel Terkait:

    Post a Comment

    Iklan Tengah Post