Iklan Billboard 970x250

Artikel Terkait

Untuk Anda yang mau mengirimkan karya literasimu, baik itu cerpen, puisi, esai dan karya literasi lainya, silahkan Anda buka disini Kirim Artikel. LINK UNDUH SUDAH SAYA PERBAIKI. (Khusus Pada Artikel Aplikasi Android )

×
Antara KAU, AKU dan KOPI sebuah Cerpen oleh Melani Margaritha Sau

Iklan 728x90

Antara KAU, AKU dan KOPI sebuah Cerpen oleh Melani Margaritha Sau

    Antara KAU, AKU dan KOPI sebuah Cerpen oleh Melani Margaritha Sau

    Antara KAU, AKU dan KOPI 
    oleh Melani Margaritha Sau

    Dentingan piano menyeruak indah memenuhi seisi kafe di malam ini. Seluruh pengunjung diajak menari dalam alunan nada syahdu yang bergema. Aku terdiam sepi sembari menatap hampa secangkir kopi robusta yang sudah sejak tadi menemaniku. Aku terpaku dalam ilusi dilemaku. Perasaanku menjadi tak karuan ketika seseorang di panggung kafe menyanyikan lagu Dear God milik Avanged Sevenfold. Lagu yang  membawaku masuk lebih jauh dalam luka tak berdarah. Pikiranku semakin menusuk kalbu. Rasanya aku hanya gadis pembawa sial yang selalu menjadi permainan hayalan para pemimipi. Batinku tercabik penyesalan. Terlalu mustahilkah jika aku ingin dicintai? Terlalu rumitkah aku di sayangi? Segala yang ada dalam hidupku terlalu manis hingga aku tak pernah tau bahwa dibalik itu semua ada jurang yang siap menelanku. Seandainya dari awal  kutau bahwa aku tak mungkin memiliki hatimu, pasti sudah ku tinggalkan kau sedari dulu. Tapi nyatanya aku masih tak berdaya dalam cinta sia – sia ini.

    ***

    “Lis, ada apa lagi sih? Sudah 30 menit aku disini. Sudah hampir habis capucinoku tapi kau masih diam dan tak bersuara sedikit pun. Aku tau Lisa, batinmu tak tahan menerima uraian kisah hidupmu. Berbagilah denganku Lis, aku masih sahabatmu.” Suara Elo bagaikan kilat yang membuyarkan lamunanku. Elo, sosok lelaki berperawakan tinggi, kurus dengan rambut kriwil yang ia biarkan tak terawat namun tetap tampan dengan lesung pada kedua pipinya. Ia adalah sosok sahabat yang selalu menjadi sandaran cerita bualanku. Tangannya masih sibuk memainkan ujung cangkir cappuccino. Aku menggeleng pelan. Kutatap mata indahnya yang selalu menjadi cahaya keteduhan ketika aku rapuh.

    “El, aku ingin pergi. Pergi jauh dan tak ingin bertemu dia lagi. Aku tak ingin lagi bertemu dengannya. Membayangkan parasnya saja, aku tak sudi. Aku benci. Aku benci dengannya. Bawa aku pergi. Keujung dunia pun aku sanggup asalkan aku tak lagi bertemu dengannya.” Terbata – bata ku ucap kalimat itu. Tak tau lagi harus bagaimana aku menceritakan semua kisah itu. Elo masih terdiam menatapku. Ia selalu begitu. Tak pernah memotong cerita dan selalu diam mendengarkan kisahku.

    “Aku hanya ingin dicintai dengan tulus, El. Aku juga ingin merasakan kasih sayang. Kenapa aku harus merasakan pahitnya kehidupan seperti ini? Aku benci hidupku El. Aku benci” Air mata berderai indah dari kelopak mataku sembari menghapus pelan polesan bedak baby pada pipiku. Tanganku masih erat memeluk cangkir kopi.

    “Minumlah dulu Lis, Biarkan racikan kopi ini mengalir dalam tubuhmu, menemani hatimu berkisah akan pahitnya hidup ini.” Elo menatapku dengan kesedihan yang ia bungkus rapi dalam senyumannya. Tangannya menghapus pelan butiran kristal bening yang menari diatas pedihku. Aku menurutinya. Kuteguk perlahan cairan hitam itu. Baru kali ini kurasakan bahwa kopi ini pahit, bahkan terlalu pahit. Selama ini aku selalu menjadi pecandu kopi yang setia. Sepahit apapun kopi, tak pernah ada kopi sepahit ini.

    “Kopi ini pahit El. Tak seperti biasanya”. Elo tersenyum hambar melihatku. Dengan senyum ia berbisik “Kopimu telah dingin Lis. Sama seperti dirimu saat ini. Dingin. Merana. Tak ada lagi harapan dalam matamu. Sirna sudah impian yang kau banggakan. Lis, kopi ini tidaklah pahit seperti apa yang kauucapkan. Kopi ini pahit karena kau meminumnya tanpa menikmatinya. Kau teguk kopi ini dengan sejuta beban hidupmu. Biarlah pahitnya kopi ini menemani sakitnya batinmu Lis”. Kembali ku pejamkan mataku dan menghirup aroma kopi itu perlahan. Elo benar. Kopiku telah dingin. Oh bukan. Bukan kopiku yang dingin. Tapi hatiku. Batinku. Diriku mulai kaku. Hidupku membeku. Sinar bahagia yang selalu warnai kanvas hidupku telah padam terteguk gelapnya goa penderitaan. Masihkah aku mampu bertahan?

    Mataku masih sembab dengan butiran yang menganak sungai. Elo kembali memesan secangkir kopi untuk menemaninya menyaksikan betapa hancur diriku malam ini dengan perasaan tercabik. Aku kembali menatap matanya sembari mencari keteduhan akan perih hatiku. Dengan senyum ia berkata, “Lis, sudahi tangismu, dunia ini terlalu dramatis. Terlalu banyak berkeliaran hasrat negatif tanpa melihat sosok malang yang tertindas ilusi. Lis, teguklah kopimu hingga habis, nikmati pula pekatnya ampas kopi hingga kautahu bahwa pahitnya kopi tak sepahit kehidupan ini”.

    Sorot matanya begitu indah menentramkan batinku yang rapuh. Kalimat demi kalimat terlontar indah menembus telinga. Kembali kuteguk habis sisa kopi dengan taburan kristal bening. Beberapa pengunjung kerap kali melirik kearahku dengan tatapan menohok. Mungkin mereka juga bagian dari barisan para pembenci dengan topeng malaikat.

    ***

    Kutelusuri jalan setapak menuju kediamanku. Sebersit kalimat Ello kembali  memenuhi seisi ruang pikirku sebelum aku memutuskan bergelayut manja pada ayunan ditaman depan rumah.

    “Ibarat kopi tubruk, hidup ini sebenarnya sederhana, Lis. Jika meracik secangkir kopi latte membutuhkan banyak waktu serta perpaduan full cream dan bubuk kopi yang tepat, maka sederhananya kopi tubruk hanya butuh kesediaan untuk menyeduh bubuk kopi dengan air panas hingga lebur dalam warna kelamnya. Begitu juga dengan kehidupan, terkadang ketika kita terlalu larut dalam mencari keindahan dalam fatamorgana hidup, dengan entengnya kita abaikan sederhananya hidup itu.”

    Aku termenung meresapi untaian kata demi kata yang bergerilya disudut kalbu. Senyum getir terpoles samar disudut bibir. Butir-butiran hujan perlahan memandikan bumi yang semakin larut. Angin malam mencoba menggetarkanku dengan dinginnya yang memuncak bak salju. Kedua bola mataku menatap sendu gemerlap langit dengan pesona awan kelabu. Memori indah bersama lelaki bermata tajam dan berperawakan tegap dengan tinggi sekitar 170cm serta memiliki rambut cokelat hazel yang selalu ia banggakan sebagai warisan leluhurnya, kembali tercetak jelas pada alunan sang waktu.
    Ditempat ini awal pertemuan tak terduga yang menggetarkan hati. Kala itu, pertama kalinya aku melintasi taman tak terawat dengan aneka sampah berceceran dimana-mana.

    Berbeda dengan taman desa di komplek rumah orangtuaku dulu yang asri, taman ini seakan telah mati dengan pelbagai rumput liar yang menari sepanjang waktu. Tak ada satu pun insan yang  menolehkan wajahnya kepada mawar merah yang merekah sayu ditengah taman sambil merintih dalam sayatan matahari, membuatnya mengering sesaat. Setelah lama melintas, kuputuskan untuk duduk disebuah bangku kayu yang hampir termakan usia. Kuedarkan pandangan mata menyusuri tiap lekuk taman ini. Mataku terhenti pada sosok misterius pemakai jaket versity biru jeans dikejauhan.

    Samar terdengar lantunan suara indah seiring dengan melodi gitar yang dipetik. Lagu Melukis Bayangmu milik Adera begitu syahdu ia senandungkan.Tak jua lama berselang, ia menatap  seraya melambaikan tangannya kearahku mengajak untuk bergabung bersamanya. Sore itu kunikmati berdua dengannya, menyaksikan senja diiringi melodi gitar dan canda renyah pengakrab ikatan pertemanan.
    Namanya Diki. Sejak pertama bertemu dengannya, aku merasakan getaran indah dalam hati, dan bayang dirinya selalu memaksa bibir ini merekah. Hubunganku dengannya makin lama kian erat. Sudah empat tahun kisah indah tertoreh manis dalam lembar hidup kami. Ia adalah sosok yang selalu kupuja dalam hayal dan kubanggakan didepan sahabatku. Ia selalu menjadi topik utama dalam perbincanganku. Ditaman ini kuukir sejarah indah bersamanya.

     “Lisa, bangun Lis. Kamu kenapa? Apa yang terjadi, Lis? Lisaaaaaa….”

    ***

    Fajar mulai menyingsing. Bias pancaran mentari mencoba melepas rekatan mata dalam mengoyak mimpi semalam. Hari ini adalah hari yang kutunggu. Agenda konyol tertulis rapi dengan tinta keemasan dalam buku harian. Kulirik arloji usang diatas meja yang semakin berantakan dengan puluhan kertas tercabik. Tiga jam lagi Diki akan menjemputku. Dengan senyum yang semakin merekah, aku melonjak turun dari ranjang dan berjalan santai layaknya aktor pantomim kearah kamar mandi.

    “Kakaa, lagi dimana? Boleh masuk?” Suara Noni -teman kost yang sudah kuanggap sebagai adik- menggelegar heboh sembari menggedor pintu kamar.

    “Kaka didalam dek. Ada apa? Masuk saja, pintunya tak di kunci” Dengan santai kubalas pertanyaannya. Noni pun menghampiriku yang sedang memoles bedak pada wajah.

    “Kak, mau kemana? Tumben jam segini kaka udah cantik. Biasanyaa…”

    Kedipan mata Noni seakan menjelaskan akhir kalimatnya. Akh, dia benar. Aku tak pernah sesemangat ini sebelumnya. Entahlah, yang kurasakan adalah getaran cinta yang menggema dan selalu terlihat cantik didepan Diki.

    “Ada deh, ini urusan orang dewasa. Anak kecil nggak boleh tahu yah…”

    Godaku yang berhasil membuat bibirnya manyun, sembari merangkul pundaknya dan melangkah perlahan ke taman mini depan kost. Bualan manis pengganjal perut dengan secangkir kopi panas menemani perbincangan kami.

    Aku anak sulung dari dua bersaudara. Kedua orangtua dan adikku telah meninggal dunia dalam insiden  perang antar suku. Keluarga besarku dibinasakan dalam sekejap. Sengketa harta menjadi penyebab rusuhnya wilayah kami. Kala itu seorang polisi berhasil menyelamatkan aku dan sahabatku Ello yang sedang mengembalakan sapi di padang ujung kampung. Sejak saat itu aku menjadi pribadi yang tertutup, trauma akan kehilangan.

    ***

    Sudah lewat lima belas menit Diki tak kunjung datang. Resah menanti bercampur satu dengan rasa khawatir. Tak lama berselang, dengan sepeda onthel antik, ia menghampiri dan mengajakku pergi. Hari itu kulalui bersamanya. Mulai dari mengunjungi toko buku, sekadar basa-basi dengan para pedagang kaki lima, hingga menikmati senja diatas bukit batas kota. Segala kekonyolan tercipta lewat gombalan tersirat pelipur hati mengibas segala duka batin yang tak kunjung kering.

    Setelah hari itu, hubungan diantara kami semakin erat terjalin. Ia selalu mampu membuatku merasa tenang dan damai disisinya. Ia juga mampu membuatku percaya bahwa cinta akan mengubah segalanya. Cinta akan menyembuhkan goresan batin pemicu trauma. Ia berhasil menjadikan dirinya sebagai salah satu sosok penting dalam hidup.

    ***

    11 Januari 2018

    Sudah hampir sebulan ia terlihat berbeda. Sapaan manisnya selama empat tahun lenyap seketika. Rasa cemburu mulai menguasai akal sehat. Aku begitu takut merasakan lagi sebuah kehilangan. Nuraniku kembali mencoba memulihkan benak. Usaha tuk kembali percaya hancur seketika saat Ello membawaku menemuinya di Kafe. Pemandangan penuh duka kembali terpampang dihadapanku. Dengan mesra ia menyuapi gadis berambut pirang dengan sebuah pita bergantung indah dekat telinga kirinya. Disela tawa mereka, ia berkata,
    “Sayang, percayalah cintaku hanya untukmu. Hubunganku dengan Lisa telah berakhir sebulan yang lalu. Sesungguhnya, aku tak benar mencintainya, segala ketulusan yang terlontar untuknya hanyalah pemanis lidah tanpa arti.”

    Ia kembali menggenggam erat tangan gadis bermata sipit itu, lalu berkata,
    “Selama ini aku hanya menjadikannya pelampiasan hasrat belaka. Gadis lugu seperti dia tak mungkin mendapatkan cintaku. Bahkan tak sudi aku menjadi mimpi dalam tidurnya. Percayalah, aku hanya mencintaimu.”

    Hatiku tersayat. Perih. Rapuh.

    ***

    Perlahan kubuka kedua bola mata. Terasa pusing dan begitu pudar pandanganku. Aroma cairan Ringer Asetat menusuk tajam menembusi selaput hidung. Kuatur perlahan hembusan nafas yang tak beraturan, mencari ketenangan dalam kecemasan. Samar terdengar suara cempreng Noni yang bahagia melihatku tersenyum.

    “Dek, dimana ini?” Kuedarkan pandanganku menyusuri tiap sudut ruangan kamar. Dalam kondisi seperti ini, masih bisa kupastikan bahwa ini bukanlah klinik samping kosan.

    “Ini di Rumah Sakit kak. Sudah dua hari kaka terbaring lemah disini.” Aku mengangguk pelan.

    “Dek, mana Ello?” Mataku mencari sosok Ello. Entahlah, aku merindukannya dalam tidur panjangku dua hari ini.

    “Mau kopi? Bangun dan duduklah sejenak, Lis. Urat tubuhmu hampir tak dapat berfungsi lagi.”

    Suara khasnya membuatku begitu bahagia. Dituntunnya aku duduk lalu disodorkan segelas kopi. Kuteguk kopi dengan senyuman. Aku merasakan segala pedihnya batin telah sirna dalam tidurku.

    “Lis, segalanya telah berakhir. Bukalah lembaran baru hidupmu. Aku tak tahu apa yang terjadi denganmu, namun percayalah aku selalu ada untukmu dalam suka maupun duka. Percayalah, cinta itu indah, tak menyakitkan.”

    Aku tertegun menatapnya.

    “Lis, Ada dunia indah nan luas di sekelilingmu. Ada aku di sampingmu. Terkadang keadaan membuat cinta terasa amat menyakitkan, akan tetapi kesejatian cinta tidak akan pernah berakhir manakala pengorbanan cinta itulah yang menjadi pemeran utamanya, cinta tidak akan pernah salah, cinta tidak mengenal batas, untuk cinta yang bertepuk sebelah tangan sekalipun.”

    Segores senyum kembali menghiasi bibirku. Kali ini untuk durasi yang lama. Kuhirup aroma khas sang kopi. Lewat kopi ini kuteguk ribuan harap yang belum sempat terucap. Berdua dengannya.

    “Lis, kopi itu pemersatu maya yang dijelmakan nyata. Kopi itu seperti kamu, selalu buatku takjub ditiap teguknya.”

    *TAMAT*


    Cinta itu ibarat kopi. Semanis apapun racikanmu, kopi yah tetap kopi. Ada sisi pahit yang tak dapat terelakkan. Begitu pula dengan cinta. Semanis apapun kau menabur kasih sayang, pastilah ada masa dimana pahitnya cinta akan kau cicipi.
    -Melani-


    Postingan ini dikirim oleh:
    Melani Margaritha Sau

    TENTANG PENULIS:
    Melani Margaritha Sau. Lahir di Kefamenanu 1 Maret 1998.
    Penulis adalah seorang gadis pecandu kopi dan penikmat senja yang sedang jatuh cinta dengan pesona fajar. Bisa dihubungi via email:
    melanisau@gmail.com, facebook: Meyland Sau, dan IG: meyland_sau.
    Tinggal di Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara - Nusa Tenggara Timur, Indonesia.
    Baca Juga
    SHARE
    Marko Kono
    Hi, My name is Marko. Pencinta Malam, Penyuka Hitam, Penikmat Gelap dan Pengurus Tapaleuk, hehehe 😃 Selain blogging, punya pekerjaan pribadi sebagai Staf Teknik bagian Pengawasan Proyek. Teknik Sipil menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupanya.
    Masukan Email Anda Untuk Dapatkan Update GRATIS!

    Artikel Terkait:

    Post a Comment

    Iklan Tengah Post