Iklan Billboard 970x250

Artikel Terkait

Untuk Anda yang mau mengirimkan karya literasimu, baik itu cerpen, puisi, esai dan karya literasi lainya, silahkan Anda buka disini Kirim Artikel. LINK UNDUH SUDAH SAYA PERBAIKI. (Khusus Pada Artikel Aplikasi Android )

×
Bertamu ke Kampung Bena, Desa Adat dan Perkampungan Megalitikum Tertua di Bajawa Flores

Iklan 728x90

Bertamu ke Kampung Bena, Desa Adat dan Perkampungan Megalitikum Tertua di Bajawa Flores

    Bloggerntt.com - Bertamu ke Kampung Bena, Desa Adat dan Perkampungan Megalitikum Tertua di Bajawa Flores, Flores, tidak hanya memiliki keindahan alam lautnya saja, namun juga budaya yang kaya. Salah satunya adalah kampung megalitikum yang dapat dijumpai di Desa Adat Bena, Bejawa. Kampung Bena terletak di Ngada, Nusa Tenggara Timur. Tepatnya di Desa Tiwuriwu, Kecamatan Aimere, 19 km Selatan Bajawa. Berada di sebelah kaki Gunung Inerie, (2.245 mdpl) dengan jarak 17,5 km dari Bajawa, ibu kota Kabupaten Ngada.


    Bertamu ke Kampung Bena, Desa Adat dan Perkampungan Megalitikum Tertua di Bajawa Flores

    Kampung Bena, Desa Adat dan Perkampungan Megalitikum Tertua di Bajawa Flores

    Kampung Bena merupakan salah satu perkampungan adat yang ada di kabupaten Ngada yang hingga saat ini masih memegang kuat tradisi budaya yang diwarisinya dari nenek moyang mereka. Terletak di kaki gunung Inerie, membuat kampung yang terkenal dengan rumah adat Bena ini tidak hanya menawarkan keunikan rumah dan tradisinya, tapi juga pemandangan gunung Inerie yang menakjubkan mata setiap orang yang melihatnya.

    Kampung ini memiliki lebih dari 40 buah rumah yang saling berhadap-hadapan. Badan kampung tumbuh memanjang, dari utara ke selatan. Pintu masuk kampung hanya dari utara. Sementara ujung lainnya di bagian selatan sudah merupakan puncak sekaligus tepi tebing terjal. Mata pencaharian penduduk kaum laki-laki adalah berladang dan kaum perempuan adalah menenun untuk dijual ke para wisatawan ataupun ke pelosok kota Bajawa Ngada. Para wisatawan yang datang pun tidak hanya dari lokal juga dari Manca negara seperti dari Belanda, Jepang, Belgia, dan negara Eropa lainnya (setidaknya itu yang saya baca dari buku tamu).


    Hingga saat ini di Kampung Bena terdapat 45 rumah adat yang dihuni oleh 9 suku berbeda. Sembilan suku tersebut antar lain suku Dizi, Dizi Azi, Wahto, Deru Lalulewa Deru Solamae, Ngada, Khopa, Ago, dan suku Bena sendiri. Meskipun bermacam suku, mereka hidup rukun dan damai, dengan pertalian saudara yang begitu kuat. Hal itu terlihat dari berbagai kegiatan gotong royong dalam pembangunan rumah maupun acara adat.

    Sebagian besar laki-laki di Kampung Bena bermata pencaharian sebagai petani. Selain hasil pangan jagung, umbi-umbian, dan kacang-kacangan, mereka juga memiliki kebun kopi, kemiri, dan perkebunan lainnya yang tumbuh subur di kaki Gunung Inerie. Bagi sebagian perempuan, mereka menenun baju yang akan dijual ke wisatawan yang berkunjung.



    Secara arsitektur, rumah tradisional Kampung Bana beratapkan alang-alang dengan lantai yang perpaduan batu-batu gunung. Konon, perpaduan batu tersebut menjadi bukti bahwa kampung ini merupakan sisa peradaban Megalitikum yang masih bertahan hingga saat ini. Tak heran, jika masyarakat di Bena begitu menghormati batu ataupun hewan-hewan. Karena mereka menganggapnya sebagai bagian dari kehidupan.

    Suasana sejuk, asri, dan masih alami begitu terasa di Kampung Bena. Meskipun kemajuan teknologi sudah mulai masuk ke Desa ini, masyarakat Bena masih tetap memegang teguh adat istiadat para leluhur. Hal inilah yang menjadi keunikan dan daya tarik para wisatawan untuk berkunjung ke Kampung Bena.

    Di Kampung Bena ini terlihat dengan adanya batu megalit yang terhampar di sepanjang pekarangan rumah.

    peninggalan batu megalit yang disebut menhir dan kubur dolmen itu adalah perwujudan legenda nenek moyang mereka dari jaman pra sejarah. Raksasa bernama Dekhe yang membawa batu-batu gaib dari lereng Gunung Inerie ke Kampung Bena yang disebut cikal bakal nenek moyang mereka.

    Dari segi struktural, kampung ini sangat rapi, terdapat lebih dari 40 rumah yang berhadap-hadapan. Pada era halaman tengah (kampung) terdapat ngadhu dan bhaga, simbol hubungan kekerabatan antara leluhur dan generasi itu sampai selamanya.

    Ngadhu merupakan representasi nenek moyang laki-laki dari satu klen (suku). Diterangkan dalam travel.kompas.com, Ngadhu tersimbol dalam bentuk sebuah tiang kayu memanjang yang diukir dengan motif sawah, beratap alang-alang dan ijuk dengan dua tangan memegang parang dan tombak. Sedangkan Bhaga merupakan representasi nenek moyang perempuan dari sebuah suku.

    Bangunan arsitektur Kampung Bena memiliki fungsi dan makna mendalam yang mengandung kearifan lokal. Masih relavan diterapkan masyarakat kini dalam pengelolaan lingkungan binaan yang ramah lingkungan. Hal inilah yang banyak menarik wisatawan mancanegara tertarik untuk datang.

    Perlu diketahui, bahwa masyarakat Kampung Bena tidak mengeksploitasi lingkungan mereka membiarkan lahan pemukiman sesuai kontur asli tanah berbukit. Bentuk Kampung Bena menyerupai perahu karena menurut kepercayaan megalitik perahu dianggap punya kaitan dengan wahana bagi arwah yang menuju tempat tinggalnya.


    Sejarah Kampung Bena

    Kampung Bena di Bajawa adalah salah satu dari desa tradisional Flores yang masih tersisa meninggalkan jejak-jejak budaya megalit yang mengagumkan. Desa ini lokasinya hanya 18 km dari kota Bajawa di Pulau Flores. Kota Bajawa yang terletak di cekungan seperti sebuah piring yang dipagari barisan pegunungan. Kota ini banyak dikunjungi wisatawan apalagi cuacanya cukup dingin, sejuk, dan berbukit-bukit, mirip seperti di Kaliurang, Yogyakarta.

    Kehidupan di Kampung Bena dipertahankan bersama budaya zaman batu yang tidak banyak berubah sejak 1.200 tahun yang lalu. Di sini ada 9 suku yang menghuni 45 unit rumah, yaitu: suku Dizi, suku Dizi Azi, suku Wahto, suku Deru Lalulewa, suku Deru Solamae, suku Ngada, suku Khopa, dan suku Ago. Pembeda antara satu suku dengan suku lainnya adalah adanya tingkatan sebanyak 9 buah. Setiap satu suku berada dalam satu tingkat ketinggian. Rumah suku Bena sendiri berada di tengah-tengah. Karena suku Bena dianggap suku yang paling tua dan pendiri kampung maka karena itu pula dinamai dengan nama Bena.

    Umumnya warga suku-suku di Bena bermata pencaharian sebagai peladang dengan kebun-kebun menghijau tumbuh di sisi-sisi ngarai yang mengelilingi kampung. Untuk berkomunikasi sehari-hari mereka menggunakan bahasa Nga’dha. Hampir seluruh warga Kampung Bena memeluk agama Katolik namun tetap menjalakan kepercayaan leluhur termasuk adat dan tradisinya.


    Rute dan Lokasi Menuju ke Kampung Bena

    Kampung Bena terletak kurang lebih 19 km arah selatan pusat kota Ngada (Bajawa) atau tepatnya berada di desa Tiwuriwu, Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada. Perjalanan menuju ke kampung Bena bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Medannya pun cukup halus karena sudah aspal hotmix, akan tetapi jalannya berkelok-kelok dan naik turun.

    Jika Anda baru saja berwisata ke Danau Kelimutu di kota Ende, maka Anda bisa naik travel atau bis jurusan Ende-Bajawa dan turun di Mataloko. Selanjutnya Anda bisa menggunakan jasa ojek untuk sampai di kampung Bena.

    Jika Anda berangkat dari Kupang, maka setelah turun di Bandara Soa, Anda bisa melanjutkan perjalanan dengan menggunakan travel ke kota Bajawa dengan tarif kurang lebih 50 ribu. Setelah sampai di kota Bajawa, Anda bisa melanjutkan perjalanan dengan menggunakan jasa ojek dengan waktu tempuh kurang lebih setengah jam.

    Harga Tiket Masuk (HTM) ke Kampung Bena

    Perkampungan Bena dibuka untuk para wisatawan mulai pukul 08.00 hingga pukul 17.00 wita. Sebenarnya tidak ada tiket masuk untuk bisa melihat dari dekat bagaimana bangunan rumah adat Bena, tapi warga kampung Bena akan meminta Anda untuk mengisi buku tamu dan memberikan donasi seiklasnya pada kotak yang disediakan.


    Akomodasi dan Fasilitas di Sekitar Kampung Bena


    • Anda tidak bisa menemukan penginapan apalagi hotel di sekitar perkampungan rumah adat Bena karena memang lokasinya yang terpencil di bawah kaki gunung. Para wisatawan biasanya lebih memilih menginap di kota Bajawa yang karena selain banyak hotel atau penginapan, jarak tempuh ke kampung Bena juga tidak jauh. Hotel paling murah yang saya jumpai adalah hotel Kambera milik pak Haji Rahman (081339464163), yaitu hanya sekitar 50 ribu hingga 100 ribu per malamnya. Namun jika Anda menginginkan hotel dengan fasilitas air hangat untuk mandi, maka Anda bisa memilih hotel Jhoni, hotel Edlewis, hotel Korina, hotel Bintang Wisata dengan rentang harga antara 150 ribu hingga 350 ribu.
    • Di lokasi tersebut juga tidak terdapat warung makan dan hanya ada warung kelontong yang menjajakan makanan dan minuman ringan. Jadi sebelum berangkat ke sana, pastikan Anda membawa bekal yang cukup. Untuk santap makan terutama bagi Anda umat muslim, sebaiknya makan di kota Bajawa karena di sana terdapat banyak warung makan Padang, maupun Lamongan yang tentunya lebih terjamin kehalalannya.
    • Kendaraan yang bisa langsung masuk di halaman pintu masuk rumah Adat hanyalah kendaraan roda 2, sedangkan untuk mobil, sekarang sudah di arahkan untuk parkir di sebelah utara perkampungan. Area parkirnya pun cukup luas.
    • Ada 3 buah kamar mandi dilengkapi dengan wc yang berada di ujung perkampungan di dekat tangga naik ke patung bunda Maria. Anda bisa memberi donasi seiklasnya pada kotak yang tersedia.
    • Kebanyakan para wanita di kampung Bena merupakan penenun dengan motif kain Adat Bajawa yang memang untuk dijual kepada para wisatawan. Harga kain adat yang bisa dijadikan baju kurang lebih 600ribu per potongnya.


    Tips Berwisata ke Kampung Bena


    Jika Anda berencana menginap di kota Bajawa, pastikan Anda membawa pakaian hangat karena suhu di kota Bajawa cukup dingin terutama pada malam hari.
    Ketika memberikan donasi, sebaiknya menggunakan uang kertas karena uang koin tidak digunakan oleh masyarakat kabupaten Ngada. Dan berikan donasi yang sepantasnya.

    Galery Foto di Sekitar Kampung Bena

    Bertamu ke Kampung Bena, Desa Adat dan Perkampungan Megalitikum Tertua di Bajawa Flores

    Bertamu ke Kampung Bena, Desa Adat dan Perkampungan Megalitikum Tertua di Bajawa Flores

    Bertamu ke Kampung Bena, Desa Adat dan Perkampungan Megalitikum Tertua di Bajawa Flores

    Bertamu ke Kampung Bena, Desa Adat dan Perkampungan Megalitikum Tertua di Bajawa Flores

    Bertamu ke Kampung Bena, Desa Adat dan Perkampungan Megalitikum Tertua di Bajawa Flores

    Bertamu ke Kampung Bena, Desa Adat dan Perkampungan Megalitikum Tertua di Bajawa Flores

    Bertamu ke Kampung Bena, Desa Adat dan Perkampungan Megalitikum Tertua di Bajawa Flores

    Bertamu ke Kampung Bena, Desa Adat dan Perkampungan Megalitikum Tertua di Bajawa Flores

    Bertamu ke Kampung Bena, Desa Adat dan Perkampungan Megalitikum Tertua di Bajawa Flores

    Bertamu ke Kampung Bena, Desa Adat dan Perkampungan Megalitikum Tertua di Bajawa Flores

    Bertamu ke Kampung Bena, Desa Adat dan Perkampungan Megalitikum Tertua di Bajawa Flores

    Penutup

    Menurut perkiraan, Kampung Bena sudah ada sejak 1.200 tahun lalu. Sampai sekarang pola kehidupan dan budayanya tidak berubah banyak. Masyarakatnya masih memegang teguh kepercayaan zaman batu, peninggalan leluhur mereka. Kampung Bena tak tersentuh kemajuan teknologi.

    Sampai disini review dari Bloggerntt.com tentang Bertamu ke Kampung Bena, Desa Adat dan Perkampungan Megalitikum Tertua di Bajawa Flores  Flores, semoga bermanfaat. Salam.
    Baca Juga
    SHARE
    Marko Kono
    Hi, My name is Marko. Pencinta Malam, Penyuka Hitam, Penikmat Gelap dan Pengurus Tapaleuk, hehehe 😃 Selain blogging, punya pekerjaan pribadi sebagai Staf Teknik bagian Pengawasan Proyek. Teknik Sipil menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupanya.
    Masukan Email Anda Untuk Dapatkan Update GRATIS!

    Artikel Terkait:

    Post a Comment

    Iklan Tengah Post