Iklan Billboard 970x250

Artikel Terkait

Untuk Anda yang mau mengirimkan karya literasimu, baik itu cerpen, puisi, esai dan karya literasi lainya, silahkan Anda buka disini Kirim Artikel. LINK UNDUH SUDAH SAYA PERBAIKI. (Khusus Pada Artikel Aplikasi Android )

×
Profil dan Biodata Frans Lebu Raya, Pencetus Anggur Merah di NTT

Iklan 728x90

Profil dan Biodata Frans Lebu Raya, Pencetus Anggur Merah di NTT

    Bloggerntt.com - Profil dan Biodata Frans Lebu Raya, Pencetus Anggur Merah di NTT, Drs. Frans Lebu Raya (lahir di Watoone, Witihama, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, 18 Mei 1960; umur 58 tahun) adalah Gubernur Nusa Tenggara Timur dua periode. Menjabat sejak 16 Juli 2008-16 Juli 2013 dengan Esthon L. Foenay sebagai wakilnya. Bersama Esthon, mereka di panggil 'Fren'. Periode ke 2, 16 Juli 2013-16 Juli 2018 dengan Benny Alexander Litelnoni sebagai wakilnya.

    Ia terpilih menjadi Gubernur Nusa Tenggara Timur menggantikan Piet Tallo. Sebelumnya, dia merupakan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur periode 2003 hingga 2008.

    Saat menjadi gubernur NTT, Frans Lebu Raya banyak melakukan gebrakan yang Pro Rakyat, dengan Spirit "Anggur Merah" (Anggaran Untuk Rakyat Menuju Sejahtera) Frans Lebu Raya meningkatkan perekonomian NTT.

    Profil dan Biodata Frans Lebu Raya, Pencetus Anggur Merah di NTT

    Biodata Frans Lebu Raya

    Nama : Drs. Frans Lebu Raya
    Tempat/tanggal lahir : Watoone, Adonara, Flotim, 18 Mei 1960
    Istri : Ny. Lusia Adinda Lebu Raya
    Tempat/tanggal lahir : Denpasar, 6 Maret 1974
    Menikah : 1 Mei 1999
    Anak :
    * Maria Jubliane Laetare Nurak (Leta)
    Lahir 28 Agustus 2000
    * Karmelia Eleonora Putri Bengan Tokan (Laura)
    Lahir 4 Oktober 2004

    Frans Lebu Raya (48) adalah anak seorang petani terlahir di Desa Watoone, sebuah perkampungan sunyi di wilayah Kecamatan Witihama, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur pada 18 Mei 1960. 
    Anak kedua dari tujuh bersaudara pasangan Ama Paulus Ola Samon dan Ina Maria Wae Peka (alm) ini selalu menampakkan sikap rendah hati. Ia hanya melemparkan senyum sebagai sebuah pesona sikap diam yang selalu ia tunjukkan ketika masuk sekolah dasar pada usia empat tahun.   

    Ia tenang dalam mengolah ilmu dan merajut pelajaran sampai akhirnya menyelesaikan studinya di SDK Watoona pada 1971 ketika suami dari Lusia Adinda Dua Nurak (34) dan ayah dari Maria Yubiliani Laetare Nurak dan Karmelia Eleonoraputri Bengan Tokan ini memasuki usianya yang ke-11.   

    Dalam usia yang masih belia itu, Lebu Raya kecil kemudian melanjutkan pendidikannya di SMP Palugodam, sebuah lembaga pendidikan swasta di Desa Sandosi yang letaknya di daerah dataran tinggi, sekitar 10 km dari kampung halamannya di Desa Watoone.   

    Tiap hari sekolah, ia bersama teman-temannya harus jalan kaki menapaki langkah menuju puncak bukit untuk menimba ilmu di lembaga pendidikan tersebut sampai tamat pada 1974 ketika isterinya saat ini baru hadir di dunia ini dalam wujud seorang bayi mungil.   

    Tiga tahun lamanya, Lebu Raya menyeka peluh dalam menimba ilmu di SMP Palugodam yang dipimpin Thomas Sili Mado Lamabelawa yang juga adalah seorang aktivis politik dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI).   

    Selepas dari Palugodam, Lebu Raya kemudian berlayar menuju Kupang, ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di Pulau Timor untuk melanjutkan pendidikannya.   

    Pilihannya jatuh ke Sekolah Menengah Olahraga Atas (SMOA) Kupang yang kini sudah ditutup oleh pemerintah setelah berubah nama menjadi Sekolah Guru Olahraga (SGO).   

    Setelah tamat dari SMOA pada 1977, Lebu Raya memilih pulang kampung dan menjadi seorang guru olahraga di SMP Gotong Royong Witihama sampai 1980.   

    Selepas dari Gotong Royong, Lebu Raya banting setir dan mendirikan sebuah lembaga pendidikan di kampung halamannya, SMP Katolik Lamaholot 1912 Witihama dan menjadi kepala sekolah di SMP tersebut.   

    Ketika melihat lembaga pendidikan yang didirikannya itu sudah mulai mandiri dan berjalan bagus, ia kembali merantau ke Kupang untuk melanjutkan pendidikannya di Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang dan memilih Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) sebagai ladang terakhir menimba ilmu pengetahuan.   

    Aura kepemimpinan Lebu Raya mulai terpancar ketika menjadi Ketua Umum Senat FKIP Undana dari 1988-1990. Selepas meraih gelar sarjana di perguruan tinggi negeri satu-satunya di NTT itu, Lebu Raya mulai melebarkan sayapnya memasuki arena politik.   

    Pada 1991-1992, ia terpilih menjadi Ketua GMNI Cabang Kupang sambil merefleksikan ilmunya sebagai dosen di Universitas Katolik Widya Mandira Kupang dan Akademi Teknik Kupang serta mendirikan Yayasan Masyarakat Sejahtera (Yasmara) untuk mendampingi masyarakat dalam melaksanakan proyek-proyek di bidang kesehatan, terutama peningkatan gizi, penanggulangan penyakit masyarakat (PMS) dan HIV/AIDS.   

    Baca juga:

    1. Profil dan Biodata W. J. Lalamentik, Gubernur Pertama Nusa Tenggara Timur
    2. Profil dan Biodata El Tari, Gubernur Nusa Tenggara Timur ke 2
    3. Profil dan Biodata Ben Mboi, Dokter yang Pernah terjun Perang dan jadi Gubernur NTT ke 3
    4. Profil dan Biodata Hendrik Fernandez, Pencetus GEMPAR dan GERBADES di NTT
    5. Profil dan Biodata Herman Musakabe, Pencetus Nikah Masal dan Wajib kenakan Seragam Motif di NTT
    6. Profil dan Biodata Piet Tallo Gubernur NTT ke 6
    7. Profil dan Biodata Viktor Bungtilu Laiskodat, Petarung Jalanan yang jadi Gubernur NTT ke 8

    Keterampilannya menjadi seorang pemimpin, terasah lewat latihan keterampilan manajemen mahasiswa di Denpasar pada 1988, latihan manajemen organisasi sosial di Kupang pada 1992, latihan manajemen organisasi nirlaba di Solo, Jawa Tengah pada 1992, latihan penyadaran dan analisa jender di Mataram, NTB pada 1996 serta latihan PMS dan HIV/AIDS di Kupang pada tahun yang sama.   

    Ketika merasa sudah mapan untuk melangkah ke arena politik praktis, Lebu Raya memilih Partai Demokrasi Indonesia (PDI) sebagai payung politiknya dan terpilih menjadi Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Kodya Kupang pada 1996.   

    Tatkala parpol ini mengalami perpecahan menjadi dua kubu kekuatan politik pada 1996, Lebu Raya tetap memilih bersama Megawati Soekarnoputri meski terus mendapat tekanan dan ancaman dari penguasa Orde Baru pada saat itu.   

    Penguasa Orde Baru memilih bersama PDI pimpinan Soerjadi dan tidak mengakui Megawati Soekarnoputri sebagai pemimpin partai tersebut sampai melahirkan insiden berdarah di Jalan Diponegoro Jakarta Pusat ketika sebuah pasukan "siluman" datang menyerang markas PDI di pagi hari yang diduduki massa pendukung dan simpatisan putri Bung Karno pada saat itu.   

    Insiden berdarah di bulan Juli 1996 inilah yang kemudian melahirkan sebuah partai baru bernama PDI Perjuangan pimpinan Megawati Soekarnoputri.   

    Kelompok pendukung Mega seakan tak tahan lagi harus bersama PDI pimpinan Soerjadi yang dikendalikan sepenuhnya oleh penguasa Orde Baru pada saat itu sehingga memilih untuk membentuk partai baru.   

    Partai baru pimpinan Megawati Soekarnoputri itu mulai membentuk cabang dan ranting di berbagai pelosok nusantara, termasuk di NTT. Di provinsi ini, partai ini dipimpin Anton Haba, dan Frans Lebu Raya sebagai sekretarisnya dari 1996-2000.   

    Selepas jadi sekretaris partai, Lebu Raya akhirnya terpilih menjadi Ketua DPD PDI Perjuangan NTT periode 2000-2010.   

    Langkah politik putra anak petani dari Nusa Tadon--sebutan khas untuk Pulau Adonara--itu mulai mengerucut ketika memasuki Pemilu 1999. Ia terpilih menjadi anggota DPRD NTT melalui pintu PDI Perjuangan dan terpilih pula menjadi Wakil Ketua DPRD NTT dari 1999-2003.   

    Selepas jeda di lembaga legislatif, masuklah periode pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah NTT periode 2003-2008 karena masa jabatan Piet Alexander Tallo SH dan Drs Johannes Pake Pani sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur NTT periode 1998-2003 telah berakhir.   

    Sebagai ketua partai, Lebu Raya pun dipinang oleh Piet Alexander Tallo untuk mendampinginya sebagai wakil gubernur, karena kesulitan yang dihadapi Tallo ketika itu, tidak diakomodir menjadi calon gubernur melalui pintu Partai Golkar.   

    Dalam pemilihan yang berlangsung dalam dua babak di DPRD NTT itu, Piet Alexander Tallo dan Frans Lebu Raya akhirnya keluar sebagai pemenang dengan posisi 28 : 27 mengalahkan pasangan Victor Bungtilu Laiskodat-Simon Hayon yang diusung Gabungan Partai di DPRD NTT.   

    Selama lima tahun mendampingi Piet Alexander Tallo sebagai wakil gubernur, Lebu Raya lebih banyak menjalankan tugas sebagai gubernur dalam mengendalikan pemerintahan dan pembangunan, karena Gubernur Tallo sedang jatuh sakit hingga memasuki akhir masa jabatannya.   

    Ketika memasuki pentas Pemilu Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) NTT periode 2008-2013, Lebu Raya mencalonkan dirinya menjadi gubernur dan meminang Ir Esthon L Foenay MSi, mantan Ketua Bappeda NTT yang kini menjabat Ketua KONI NTT sebagai wakil gubernur.   

    Pasangan Drs Frans Lebu Raya dan Ir Esthon L Foenay MSi yang lebih populer dengan sebutan "Fren" ini masuk ke arena Pilgub NTT melalui pintu PDI Perjuangan untuk bersaing dengan dua pasangan kandidat lainnya, Ibrahim Agustinus Medah-Paulus Moa (Tulus) yang diusung Partai Golkar dan pasangan Gaspar Parang Ehok-Yulius Bobo (Gaul) yang diusung Koalisi Abdi Flobamora.

    Sekian Profil dan Biodata Frans Lebu Raya, Pencetus Anggur Merah di NTT, semoga bermanfaat. Salam FLOBAMORA.
    Baca Juga
    SHARE
    Marko Kono
    Hi, My name is Marko. Pencinta Malam, Penyuka Hitam, Penikmat Gelap dan Pengurus Tapaleuk, hehehe 😃 Selain blogging, punya pekerjaan pribadi sebagai Staf Teknik bagian Pengawasan Proyek. Teknik Sipil menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupanya.
    Masukan Email Anda Untuk Dapatkan Update GRATIS!

    Artikel Terkait:

    Iklan Tengah Post