TUHAN ITU BAIK

Bloggerntt.com - Mobil kijang melaju perlahan menyusuri perbukitan Timor nan gersang merayap ke arah timur menuju kota Soe. Senja yang muram karena gerimis kepanjangan.

TUHAN ITU BAIK

Perjalanan 300 km ke arah timur kota Kupang adalah suatu perjalanan yang meletihkan. Maka perlu banyak kali membuat persinggahan demi tetirah untuk mengambil kekuatan.

Baca juga : DEVOSI ROSARIO DI BULAN OKTOBER

Persinggahan pertama adalah persinggahan default. Pondok cucur Oesao. Kau boleh memilih: Agua Botol, Pulpy Orange atau Mizon. Aku suka semuanya. Makanannya kue cucur atau kue tali perut, yang minyaknya bisa bikin noda segala barang di dalam mobil. Tapi kalau kau pencinta produk dalam negeri, pilihlah pangan lokal seperti jagung rebus atau ubi bakar. Murah. Asal kau mau sabar menawar.

Persinggahan berikutnya adalah by accident. Kalau kau merasa mual, atau butuh kamar kecil, mari, silakan singgah di rumah teman, di suatu tempat di pinggir kali yang keruh, Noelmina. Ada teh panas, kopi panas, semua yang panas-panas. Di sini pula kau boleh sepuasnya membakar diri, menyulut api di ujung bibirmu lalu kau hembuskan keluar dengan sia-sia, seperti kata Pengkhotbah.

Baca juga : LELAKI SEPERTI ITU

Berikutnya seharusnya kau telah tiba dengan nyaman di kota sejuk Soe yang melankolis. Tapi kau terpaksa menggerutu di Boentuka, karena ban mobil dari Kijang LX yang kau pakai ternyata bonyok terhempas kerikil jalanan timor raya. Kau mesti menghubungi orang-orang di kota terdekat yang ada dalam contact list mobile phone mu. Lagi-lagi kau harus dongkol, karena dering telepon di seberang tak ditanggapi alih-alih suara doa salam maria yang menjengkelkan ketika kau justru merasa terjepit , sesak karena jengkel. Lalu kau berteriak seperti Yakobus, “Iman tanpa perbuatan adalah mati!”

Walaupun cukup dilanda stress, akhirnya kau mengisi waktu dengan memutar media playermu mengalunkan nada-nada kelebihan treble. Hingga saatnya kau kembali dikontak oleh orang itu dengan nada penuh penyesalan dan berjanji akan melakukan pertolongan pertama pada kecelakaan, namun kau tunggu-tunggu hingga tiga jam kemudian baru dia datang dengan terburu-buru sambil meminta maaf. Kau segera memaafkan dia karena dia datang dengan segala sesuatu yang kau butuhkan, copotan ban mobil orang lain yang siap dipakai untuk melanjutkan petualangan ganjillmu menuju ke negeri entah.

Kau sungguh senang dan sengsara tiga jam yang seperti sengsara Yesus di bukit Golgota segera sirna dengan bayangan sup ayam kampung yang  sudah menanti di penghujung suatu perjalanan.

Dan kau bersyukur lalu bergumam kepada temanmu bahwa Tuhan sangat baik, baik kepada semua orang…

Baca juga : DEKLINASI I JAMAK : ROSA

Perjalanan akhirnya memuncak di kota Soe yang dingin dan sejuk. Udara malam yang menggigil bertambah kelam oleh gerimis yang berkabut. Memasuki rumah teman, kami disambut hangat dengan sup ayam kampung yang benar-benar juga hangat. Hawa yang menggigil dengan sup olahan khusus ini mengingatkan saya akan penjelasan Guru Aljabar waktu SMP dulu, himpunan A dan B dengan korespondensi satu-satu.

Keselamatan yang terjamin hingga di kota dingin ini adalah khabar gembira yang perlu diwartakan ke seluruh penjuru kota Soe. Maka mereka yang sibuk membantu sedari kemalangan sore tadi sibuk dipanggil untuk dikhabari. “Halo, apa khabar, kami sudah tiba di sini dengan selamat, tak kurang suatu apapun, kecuali suhu tubuh, karena tanda di termometer menunjukkan sedikit saja di atas nol derajat celcius. Terimakasih untuk segala kesibukan dan bantuan. Jangan menuntut balas dari kami yah. Bukan karena kami tak mau atau tak mampu. Tapi kami tak ingin mengambil alih kuasa Tuhan untuk membalas kebaikan Anda semua yang dermawan dan lembut hati…”

Tapi, perjalanan belum usai. Masih ada orang nun di sana yang sedang menanti harap-harap cemas. Mungkin juga jengkel, “orang-orang ini pada kemana yah? Sudah jauh malam gini kok masih kluyuran. Enak aja, mau numpang di rumah orang, kok, masih suka telat!”

Kijang LX kembali menggelincir membelah perbukitan berkabut, memasuki Niki-niki di tengah gulita malam. Waktu sudah hampir menunjukkan pergantian hari, ketika menara paroki Aryos dengan patung Pater Kooynya menyongsong kami dengan beku. Teman-teman di sini ternyata masih berjaga. Kami dipersilakan masuk, lantas menikmati hidangan yang ternyata sudah ikut membeku. Tapi tidak, hati tuan rumah tak sebeku makanan ini.

Baca juga : SI PEMALAS TERCANTIK DI DUNIA

Kendati tubuh terus menggigil, dan kupikir virus influenza mulai melancarkan serangan ganasnya, saat itulah aku menarik selimut, menutup tubuh segera sesudah completorium secara improvisasi singkat menutup hari yang membeku di Niki-niki.

Saat itu pula, kami semua, – seperti tiga pemuda dalam tanur api yang serentak berseru (bukan, Panas ngero! tapi )  “Pujilah Tuhan sebab Ia baik, kekal abadi kasih setiaNya!”

Benar. Perjalanan ini belum usai.

“Bangun pagi kuterus mandi, ups, dingin! Sebaiknya aku meringkuk terus di balik selimut, sembari memasang telinga pada kicauan berbagai burung menyambut pagi.” Tapi kalau kau mau mari kita ke halaman depan saja. Ada mawar menguncup dan merekah di sana. Merah, kuning, jingga, juga putih. Berbagai benggolan adenium, gerombolan begonia, dan apalagi? O ya, melati nggak ada! Seperti kilau permata, embun pagi enggan meninggalkan dedaun, tetangkai dan kelopak. Sebuah gentong plastik besar berwarna biru menampung tetesan gerimis, meluap lalu meluberi rumputan. Pagi yang basah.

Di sana, di balik pepohonan depan biara RVM, hamparan tipis berwarna putih melayang ringan, turun, turun, turun mencumbu tanah, dan menyelimuti kau hingga kau berpikir dunia ini serba putih oleh kabut pagi itu. Tapi kita harus segera melanjutkan perjalanan ini.

Baiklah kuperkenalkan dulu teman-temanku. Di depan, Bung Edu nampaknya tak pernah lelah memutar setir, menginjak berbagai pedal dan mendongkrak persneling, sambil sesekali menguap. Di samping kirinya ada Romo Ande, pak tua yang sering tertidur, kadang terjaga untuk membicarakan satu dua hal seputar apa saja yang sempat melayang di pikirannya. Di belakangnya ada aku. Dan di samping kananku ada Romo Titus yang tak bosan-bosannya bertanya, “Sudah sampai daerah mana ini?” seolah Timor ini seperti sebuah planet di ruang angkasa.

Nah, hari ini kita akan meneruskan petualangan ini ke arah Timur ke kota sari Kefamenanu. Kau tahu bukan Kota Kefa sedang ribut-ributnya seperti anjing memperebutkan tulang, saling menggonggong bikin gaduh saja. Gara-gara tulang itu milik Dubes tapi terasa Manis. Kita akan segera tiba di sana. Waktunya tak lama. Sabar saja, dua jam kemudian kita akan iktu menonton gonggongan yang ramai itu.

Kelokan, kelokan, kelokan, kelokan, lalu tanjakan, turunan, terjal, landai sehingga baru sepuluh menit saja perut terasa mual-mual. Mabuk, meski Antimo tak lupa kau selipkan usai makan pagi tadi. Tapi kau bertahanlah, sebab ketika memasuki batas Kabupaten TTS dan TTU, dengan tugu berbentuk jari merangkai angka nol dengan telunjuk  dan ibu jari, kau serasa berada di jalan tol, lurus, besar dan bebas hambatan. Apalagi mentari sedang asyik tersenyum!

Kita segera memasuki kawasan Noemuti yang rata oleh sawah, dan beberapa tenda terpasang di sana, tenda-tenda yang akan dipadati sebentar sore usai pentahbisan imam baru di Kota sari kefamenanu. Nah, sampai sini kau tahu, sudah tujuan perjalanan meletihkan ini, demi menghadiri sebuah perayaan pentahbisan sembilan orang imam baru untuk Keuskupan Atambua di gereja Santa Theresia kefamenanu, jam 9 pagi ini. Ikut?

Biarkan Kijang LX ini terus melaju, jaga pikiran, perkataan dan perbuatan karena sebentar lagi kita harus merayakan Ekaristi Agung ini. Marilah kita hening sejenak….

Akhirnya aku pikir aku wajib berterima kasih kepadamu, pembaca notesku yang setia. Mungkin banyak hal yang tak kau dapatkan dari catatan remeh ini, namun betapa engkau telah meluangkan waktumu yang amat berharga hingga akhirnya engkau dan aku tetap menjalin sebentuk telepati dari otak ke otak dan terutama dari hati ke hati.

Mulanya kisah perjalanan kecil ini ingin sekedar kusimpan saja dalam kenangan. Akan tetapi ada suara yang mendesakku untuk membagi-bagikannya kepadamu. Aku tahu kau adalah sobat sejatiku, maka hal-hal apapun yang dariku pasti selalu kau perhatikan, kau sungguh memberi hatimu padaku.

Aku sebenarnya risih menuliskan goresan kecil ini, namun aku yakin kau juga punya hal remeh temeh kecil yang kau pikir amat indah dalam hidupmu dan cuma orang-orang yang mencintaimulah yang mau meluangkan sedikit waktu untuk membacanya.

Kisah perjalananku dari Kupang hingga Kefamenanu, sebagaimana telah kau ketahui, adalah suatu perjalanan main-main untuk menghadiri suatu peristiwa tahbisan imam untuk Keuskupan Atambua. Hari itu, Senin, 16/10/2010, kota Kefa sedang bergeliat, selain karena peristiwa iman ini, juga karena ada saling menyikut antara para pendukung Kandidat Bupati TTU.

Kendati demikian, situasi ini sebenarnya tak begitu terasa saat berlangsung perayaan tahbisan. Kau tahu, mayoritas warga kota Kefamenanu adalah pemeluk Agama Katolik Roma, namun sama seperti manusia lain di muka bumi ini, mereka juga punya peri kebinatangan, yang sesewaktu mendesak untuk diungkapkan. dan itulah yang terjadi menjelang pengumuman hasil pemilu Kada 2010.

Akan tetapi tak usahlah kita pertimbangkan hal itu,. Yang jelas bahwa ketika mereka sedang sibuk memilah dan memilih pemimpin duniawi, Tuhan sendiri yang telah berkenan memilah dan memilih 9 orang dari antara mereka, pada waktu yang hampir bersamaan, menetapkan mereka dengan meterai tahbisan.

Tuhan sungguh peduli kepada manusia ciptaannya. Kadang aku berpikir, “Peduli amat dengan manusia (seandainya aku Tuhan), kau harus tahu bahwa aku yang bikin kamu!” Saya pernah mendengar ucapan semacam ini dari beberapa orang tua yang saya kenal, yang berusaha melegitimasi kekerasan terhadap anak dan istri, (KDRT, githu lho!)… Sang pria berkuasa memberi makan anak istri, maka dengan sendirinya berkuasa main kaki dan main tangan… nah….

Tapi Tuhan, seperti yang aku alami dalam perjalanan yang meletihkan ini,  selalu hadir dan menolong aku di saat-saat sulit, dan terutama karena ia hadir melalui sesama saya.

Ah, betapa bernilainya manusia di hadapan Tuhan…. Betapa baiknya TUHAN

0 Response to "TUHAN ITU BAIK"

Post a Comment

۝ Peraturan dalam berkomentar :

☛ UpsS,. Budayakan berkomentar sesudah membaca artikel sob.
☛ Dilarang Menghina, Promosi (Iklan), Menyelipkan Link Aktiv, dsb.
☛ Dilarang berkomentar berbau Porno, Spam, Sara, Politic, Profokasi.
☛ Berkomentarlah yang Sopan,Bijak, dan Sesuai Artikel (Dilarang OOT)
☛ Saya sangat berterima kasih atas semua yang mau berkomentar diblog saya.
☛ Saya PASTI akan berkunjung balik ke blog Sobat yang sudah mau berkomentar di sini.

Copyright © 2018 - Blogger NTT® Bloggerntt.com✓

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel