Tradisi “Saok Nate” orang Dawan: Perkawinan Budaya Halaika dan Iman Kristiani

Bloggerntt.com - Tradisi “Saok Nate” orang Dawan: Perkawinan Budaya Halaika dan Iman Kristiani, Tradisi “Saok Nate” orang Dawan: Perkawinan Budaya Halaika dan Iman Kristiani
Tradisi “Saok Nate” orang Dawan: Perkawinan Budaya Halaika dan Iman Kristiani

Dalam kalender Liturgi Gereja Katolik, tanggal 2 November dirayakan sebagai hari peringatan arwah segala orang beriman. Pada hari ini perayaan Ekaristi biasanya dilaksanakan di Tempat Pemakaman umum dengan intensi khusus untuk sanak saudara yang telah meninggal dunia.

Baca juga : Memecah Pembisuan 'Timor dan Tragedi G30S/PKI'

Tradisi Katolik ini mengalami inkulturasi dengan kebudayaan Halaika orang Dawan dalam hal pemujaan arwah para leluhur. Menurut orang Dawan, para leluhur inilah yang bertugas meneruskan petisi-petisi orang hidup kepada Uis Neno, Apinat-Aklahat. Untuk itulah dalam setiap peringatan arwah orang beriman ini selain merayakan ekaristi, orang Dawan juga melakukan ritus kecil di kuburan yang disebut “Saok Nate”.

Baca juga : FIVE REASONS TO LOVE TIMOR, Bae Sonde Bae Tanah Timor Lebe Bae

Secara harafiah, Saok Nate berarti “membersihkan kuburan”. Pada tanggal dua november, pagi-pagi benar seluruh sanak saudara berkumpul disekeliling kuburan kerabat mereka , lalu membersihkan kuburan tersebut. Biasanya dengan cara memperbaiki tumpukan batu, mencabuti rerumputan liar, memangkas bunga-bunga hidup yang ada, mempersiapkan ruang di sekitar kuburan untuk acara Saok Nate malam harinya.

Baca juga : WWF Indonesia – Mutis-Timau di Timor Barat

Dalam perayaan ekaristi, ada acara khusus pemberkatan lilin dan rampai oleh imam, yang akan dibawa ke pekuburan. Rampai tersebut dikumpulkan dari bunga-bunga terbaik di halaman rumah dengan syarat, ketika dipetik tak boleh jatuh menyentuh tanah. Tak ada alasan lain selain “belum saatnya bunga itu berbaur dengan tanah”.

Pada waktu yang sudah ditentukan, biasanya pada senja hari, mereka kembali berkumpul di kuburan sanak kerabat. Meraka akan memasang lilin, berdoa bersama lalu menabur bunga rampai. Sang kepala keluarga kemudian akan mengucapkan petisi-petisi dalam bahasa Dawan. Biasanya untuk memohon berkat dan perlindungan dari para leluhur. Lalu acara makan bersama. Menunya istimewa. Menu khas untuk saok nate adalah nasi putih, dulu jagung titi, dengan rebusan daging ayam atau babi yang sudah diiris kecil-kecil tercampur seperti nasi tim yang khas Surabaya.

Baca juga : SI PEMALAS TERCANTIK DI DUNIA

Nasi tersebut diisi dalam nyiru, nampan dari anyaman lontar. Semua anggota keluarga makan dari wadah yang sama. Langsung dengan tangan. Duduk mengelilingi nyiru dengan tangan kiri memegang tepian nyiru dan tangan kanan bertugas menyendok nasi. (sebaliknya, kalau kau memang kidal!). Tak boleh bersuara selama makan, tak ada kuah, dan tak boleh minum air. Makanan mesti dihabiskan sekali jalan. Konon ini acara makan bersama dengan para arwah. Perlu berhati-hati agar remah tidak terbuang. Kalau segala macam tetekbengek peraturan ini tak dipatuhi maka akan ada kesulitan di kemudian hari. “Para arwah marah”, kata tua-tua.

Baca juga : 10 Kuliner Khas NTT Yang Bikin Beta Rindu Mau Pulang Kampung

Sesudah makan, saatnya bersantai. Memori indah bersama para almarhum dan almarhumah dihadirkan kembali. Satu persatu menceritakan kembali bagaimana kearabannya dengan mendiang, di sela dengan canda dan tawa. Semuanya kembali ke rumah setelah malam menjadi suram karena lilin yang dipasang sudah habis.
Itulah secuil tradisi kecil Saok nate yang hingga sekarang masih dilakukan oleh orang-orang Dawan yang beragama katolik. (Karena ada juga kristen lain yang tidak punya penghormatan kepada arwah, dengan dasar teologis sendiri…)
Pie Jesu Domine, dona eis requiem aeternam!

Oleh : Patris Aleggro

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Tradisi “Saok Nate” orang Dawan: Perkawinan Budaya Halaika dan Iman Kristiani"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel